Rumah Tempat Kita Pulang

Jun Prakoso
Chapter #10

Bab 10

Satu jam kemudian, Setio menghentikan mobilnya agak jauh dari sebuah kawasan pergudangan yang tampak remang dan terbengkalai. Sebagian besar lampu penerangan jalan di sana sudah mati.

Setio menyelinap melalui celah pagar besi berkarat yang sudah rapuh, melangkah masuk kompleks itu dalam kegelapan.

Di hadapannya berjejer belasan gudang tua yang tertutup rapat. Setio menyalakan senter ponselnya menyorot rendah ke arah jalanan aspal yang tertutup debu tebal. Ada jejak tapak ban yang masih baru. Jejak itu berbelok tajam dan berakhir tepat di depan pintu sebuah gudang.

Di dinding depan unit itu, pelat nama penyewa masih terpasang. Catnya mengelupas, tapi hurufnya masih terbaca: PT HASTA CIPTA LOGISTIK. Di bawahnya, nomor unit: Gudang 4, Sektor Anggrek.

Pintu lipat besi gudang itu tertutup rapat. Pada gerendelnya menggantung sebuah gembok baja yang masih baru, berbeda dari dinding gudang yang berlumut. Tapi kaitnya terbuka. Dia melepas gembok itu dari kaitnya, menggeser pintu besi secukupnya, lalu masuk ke dalam kegelapan.

Udara di dalam pengap dan berdebu. Setio menyorot cahaya senternya ke seluruh ruangan. Kosong. Tak ada mobil boks berpelat B 1209 XYZ.

Namun, dia melihat jejak tapak ban roda empat yang ukurannya sama, lalu menelusurinya. Sampai di sebuah tiang, dia berjongkok. Di tempat itu ada jejak segar dua mobil boks yang sempat diparkir berdampingan, dan genangan air jernih yang sepertinya menetes dari pendingin udara kabin.

Cahaya senter ponselnya memantul pada sebuah benda kecil yang tergeletak di lantai.

Setio memungutnya. Sepotong gelang plastik putih yang lazim dipasangkan di pergelangan tangan pasien rawat inap. Gelang itu tidak lepas sendiri. Ujungnya seperti tergunting.

Di permukaannya tercetak nama Zikri dan nomor rekam medisnya.

Mereka melepas identitasnya sebelum memindahkannya ke kendaraan lain, batinnya.

Setio bergegas kembali ke dalam kabin mobilnya. Sambil membiarkan mesin mobil tetap menyala di area parkir yang gelap, dia memangku komputer lipatnya.

Jemarinya menari lincah di atas papan ketik, menyisir basis data arsip redaksi dan catatan publik kementerian terkait legalitas PT Hasta Cipta Logistik.

Satu per satu, tab perambannya membuka barisan dokumen legalitas.

Tepat lima belas menit kemudian, telunjuknya menekan tombol Enter untuk terakhir kalinya. Sebuah diagram jaringan finansial di layarnya kini berpusat pada satu logo besar: PT Eterna Biomedika.

Setio mengklik profil perusahaan konglomerasi farmasi dan bioteknologi itu. Deretan artikel berita langsung memenuhi layar. Wajah tampan Hendra Salim, sang pendiri sekaligus direktur utama, terpampang besar di berbagai sampul koran dan majalah bisnis.

“Oh, ya?” ujar Setio sambil mengernyitkan dahi.

Matanya lalu beralih pada data kelahiran sang direktur utama: tahun 1954. Pria itu sama sekali tak memiliki kerutan, rambutnya lebat tanpa sehelai uban. Penampilannya terlihat bugar layaknya pria empat puluhan.

Kursor terus bergulir ke bawah, melewati rangkaian berita utama. “Hendra Salim Kucurkan Dana Hibah Astrobiologi,” “Eterna Biomedika Rilis Suplemen Anti-Penuaan,” dan “Jaga Demokrasi, Hendra Salim Hibah LSM.”

Terlihat foto-foto sang dermawan tersenyum memotong pita rumah sakit, berjabat tangan erat dengan menteri, petinggi DPR, dan jenderal kepolisian, serta berpidato di mimbar kampus ternama.

Orang ini memiliki sumber daya tak terbatas. Semuanya dalam cengkeramannya. Dengan kuasa sebesar itu, dia mampu berbuat apa saja tanpa tersentuh.

Aliran penyejuk udara terasa lebih dingin di tengkuknya.

Apakah pahlawan filantropi ini otak di balik penculikan Zikri?

Sukar dipercaya, tapi dia hanya perlu bukti.

Tangannya meremas kemudi mobil.

Lihat selengkapnya