Rumah Tempat Kita Pulang

Jun Prakoso
Chapter #10

Bab 10

Kilatan cahaya merah itu membakar sekujur saraf Kapten Satria. Kejutan rasa sakitnya membuat kesadaran sang pahlawan menghilang. Secara perlahan, lingkungan pabrik yang bau karat itu lenyap.

Dunia menjadi gelap. Sepoi-sepoi berembus angin perbukitan yang sejuk membawa aroma rerumputan basah menerpa wajah Kapten Satria.

*

Enam tahun silam. Gunung Padang.

Setio merapatkan ritsleting jaket parasut hingga ke leher guna menahan hawa dingin yang semakin menembus tulang.

“Hasil pemindaian GPR menunjukkan ada perbedaan kepadatan di perut bukit,” kata Profesor Hilman sambil menunjuk grafik bergelombang di layar komputer lipatnya. “Semacam struktur berongga yang luas.”

Setio membungkuk di samping sang arkeolog senior, mengamati deretan angka dan pemetaan warna yang tak dipahaminya. “Struktur berongga, maksud Anda ada gua, Prof?”

“Bukan gua biasa, Mas Setio. Itu tanda jejak ruangan dan lorong yang terencana. Hanya saja, letaknya jauh di perut bukit, terkubur di bawah lapisan tanah. Kita masih perlu banyak data empiris dan penggalian lebih dalam untuk membuktikan.”

“Jika itu sebuah struktur bangunan, berapa perkiraan usianya, Prof?”

“Dari hasil uji karbon pada sampel organik batu-batu andesit di sini berusia lima belas ribu tahun,” jawab Profesor Hilman dengan mata yang berbinar. “Temuan ini memastikan, situs ini bukan terjadi secara alami, tapi karya manusia di masa silam.”

“Itu tak mungkin,” ujar Setio menggeleng pelan. “Buku sejarah mencatat peradaban tertua di dunia baru muncul empat sampai lima ribu tahun silam.”

“Bukan tidak mungkin, Mas Setio. Sejarah itu ilmu yang berkembang, dan jika ada temuan baru, sejarah harus ditinjau ulang. Itulah guna wartawan seperti Anda. Silakan tulis temuan ini. Kabarkan kepada masyarakat, bahwa bangsa kita telah memulai peradaban yang jauh lebih tua daripada Mesopotamia.”

“Menarik, Prof. Tapi, tentu akan banyak yang skeptis.”

Belum sempat Profesor Hilman menanggapi, kabut putih pekat turun merayap dari puncak bukit, menyelubungi undakan teras-teras batu dengan cepat. Hujan mulai turun rintik-rintik, membasahi tanah. 

“Hentikan penggalian,” perintah Profesor Hilman kepada seluruh tim lapangan. “Kita kembali ke posko sekarang, cuaca mulai tak bersahabat. Hari juga sudah senja. Kita lanjut besok pagi.”

Para peneliti dan pekerja bergegas mengemasi peralatan ukur dan sekop mereka, lalu menuruni undakan menuju markas di kaki bukit.

“Turun, Mas Setio! Bahaya kalau gelap di sini!” seru seorang pekerja dari kejauhan. Badannya samar-samar terlihat di balik kabut.

Duluan saja, Kang! Saya menyusul!” balas Setio sambil melambaikan tangan. Dia lanjut membidik kamera DSLR-nya ke situs beberapa jepretan terakhir dengan latar belakang suasana berkabut.

Setio baru saja menurunkan kamera dan hendak melangkah turun, tapi tiba-tiba terdengar suara seseorang yang menggelitik telinganya.

“Manggala Kesatria....”

Setio berpaling ke belakang. Kosong. Tak ada siapa pun. Sepertinya arahnya dari puncak bukit yang sudah tenggelam dalam kabut. Didorong rasa penasaran, Setio tidak jadi turun, malah memutar haluan. Dia mendaki undakan demi undakan batu andesit yang mulai licin oleh air hujan.

Langkahnya akhirnya membawanya ke Teras Kelima. Titik tertinggi situs. Di tempat ini, balok-balok andesit purba berserakan secara acak. Setio berdiri mematung di tengah-tengah teras. Napasnya yang terengah-engah menghasilkan uap putih di udara dingin.

Matanya tertuju pada balok prisma tegak tertanam miring ke dalam tanah yang berlumut. Batu itu berbeda dengan batu-batu andesit di sekitarnya. Ada pendaran cahaya fosfor halus kebiruan dari permukaannya.

Setio seakan terhipnotis. Dia mendekat dan mengulurkan jarinya, lalu disentuhnya balok poligon yang dingin itu.

Saat itu juga, ada getaran mengalir dari ujung jari, menjalar cepat ke lengan, dan ke sumsum tulang belakangnya. Rasanya seperti tersengat listrik tegangan rendah yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Kemudian, kupingnya mendadak mendengung. Serasa ada angin sejuk itu yang menggelitik mengalir masuk melalui rongganya, menghembus gendang telinga, menembus tulang tengkorak, lalu menyebar ke seluruh tubuh melalui urat nadinya. Setelah itu, aliran angin itu keluar melalui pori-pori kulitnya. 

Pada saat yang sama, pemandangan di sekitar Setio seakan berputar cepat layaknya gasing. Matanya berkunang-kunang. Setio berpegangan erat pada batu prisma itu sambil memejamkan mata. Dia mengira dia mendadak terkena vertigo.

Saat dengungan telinga berhenti. Dia membuka matanya perlahan.

Dia terbelalak melihat pemandangan sekeliling.

Ini bukan Gunung Padang....

Dia berada di sebuah yang luas. Lantainya pualam yang mengkilap. Langit-langitnya tinggi, tapi tidak ada satu pun tiang penyangga. Ragu-ragu dia melangkah mendekati dinding kaca tembus pandang tanpa bingkai. Ternyata disadarinya, dia berada di sebuah bangunan tinggi, seperti menara pengamat.

Di luar jendela membentang sebuah kota dengan bangunan-bangunan menjulang menembus awan. Di bawahnya menghampar pepohonan hijau rindang menyatu dengan taman kota yang luas.

Dinding kaca itu memantulkan sosoknya. Tapi tunggu. Itu bukan dirinya. Serupa, tapi alisnya lebih mendatar dan tajam, sedangkan tulang rahangnya lebih tegas, menyiratkan kepribadian seseorang yang terbiasa menghadapi kekerasan.

Dia baru sadar, pakaiannya berubah, bukan lagi jaket parasut dan kemeja flanel, tapi lebih mirip seragam tempur yang mirip pakaian awak penjelajah antariksa.

Aku berada di dalam tubuh orang lain?

"Kau sudah datang, Manggala Kesatria,” sapa suara itu jelas terdengar di balik punggungnya.

Lihat selengkapnya