Kesadaran berangsur merayap kembali ke dalam benak Kapten Satria. Denyut nyeri tajam mulai terasa di sekujur ototnya. Bau antiseptik khas rumah sakit menembus penciumannya. Kelopak matanya terasa berat, serasa ada batu yang mengganjal. Ada cahaya menyilaukan menembusnya meski terpejam.
Kapten Satria berusaha menggerakkan badan, tapi tubuhnya terkunci dalam belenggu logam.
Dia mendapati dirinya terpasung pada papan logam. Mereka telah melucuti setelan tempurnya dan menyisakan celana dalam merah. Elektroda tajam menusuk langsung di kulit dahi, dada, dan ulu hati, serta kedua pahanya.
Kapten Satria berusaha memulihkan pusat kekuatan di tulang dada tengahnya. Namun, sesuatu yang dingin dan lengket seakan menghisap kekuatannya terus-menerus. Gel alien itu.... Mereka melapisi cairan gel asing sebagai bantalan untuk mencegahnya pulih.
Samar-samar dia melihat Doktor Aris dan asistennya bercakap-cakap di depan panel tak jauh darinya.
“Dia memiliki DNA manusia, orang Indonesia. Tapi biometrik wajah dan tangan tidak ditemukan di data kependudukan. Secara genetika dia ada, tapi secara identitas... dia seperti tidak pernah dilahirkan. Saya tak mampu menjelaskan siapa atau apa dia ini sebenarnya.”
“Pemindaian selesai. Energi yang kuat ditemukan di Korpus Sternum. Lihat....”
“Apa itu?”
“Sensor membaca adanya pembangkit tenaga biologis... bioelektrik berlimpah. Pantas saja entitas gel itu menganggapnya sumber makanan yang lebih menarik daripada gardu induk.”
"Laju regenerasinya melawan hukum termodinamika. Dia bukan manusia biasa. Senyawa gel ekstraterestrial di elektroda berhasil menekan pemulihannya. Coba perbesar.”
“Ada sesuatu tertanam di dalam Sternum. Apa itu?”
Samar-samar Kapten Satria melihat pemindai berhenti tepat di tengah dadanya.
“Bukan organik, bentuknya padat simetri sempurna, seperti artifisial. Bagaimana bisa ada di dalamnya?”
“Apa kita perlu membedah dadanya, Doktor?”
“Biar kita ekstrak bioenerginya dulu. Tambahkan satu jarum ke Korpus Sternum. Kita sedot cairan sumsumnya."
Asisten itu mengangguk. Dia meraih sebuah perangkat dari nampan baja di dekatnya, sebuah elektroda dengan jarum logam tebal berongga di bagian tengahnya. Langkah sepatunya berdetak di lantai baja anjungan pasungan, bergerak keluar dari keremangan dan masuk ke dalam cahaya benderang yang menyorot Satria.
“Maaf...,” ucapnya gugup.
Dengan gerakan cepat, dia meneteskan gel itu di tengah dada Kapten Satria. Entitas lengket itu menggeliat bagai magnet cair, menyusup ke dalam pori-pori kulit, layaknya jutaan lintah kecil yang kelaparan.