Rumah Tempat Kita Pulang

Jun Prakoso
Chapter #11

Bab 11

Kesadaran berangsur merayap kembali ke dalam benak Kapten Satria. Nyeri tajam mulai menyebar ke seluruh otot. Bau antiseptik khas rumah sakit menyergap penciuman, bercampur bau asam di tubuhnya. Cahaya menyilaukan menembus kelopak mata yang terpejam.

Kapten Satria berusaha menggerakkan badan, tapi pergelangan kaki dan tangannya terbelenggu.

Punggungnya menempel pada permukaan yang keras dan dingin, nyaris tegak. Pergelangan tangan dan kaki menanggung beban badan yang menggantung. Udara berembus menerpa seluruh permukaan kulit. Ada sesuatu yang kenyal melekat dingin di dahi, puting dada, ulu hati, dan kedua paha.

Kapten Satria memusatkan kekuatan di tengah dadanya. Namun, aliran itu terasa bocor di bantalan yang dingin itu, yang mengisap bioelektriknya terus-menerus. Gel alien itu.... Mereka memanfaatkannya agar kekuatannya tidak pulih....

Samar-samar dia mendengar percakapan tak jauh darinya.

“Dia memiliki DNA manusia, tapi profilnya tak masuk nalar. Struktur genetiknya seperti berusia belasan ribu tahun, tapi rantai DNA-nya murni, tak ada jejak mutasi. Sel-selnya segar. Coba cek sekali lagi identitasnya.”

Terdengar suara tuts kibor diketik. “Kita sudah melakukan pengecekan berulang. Biometrik wajah dan tangan tidak ditemukan di data kependudukan. Dia seperti tidak pernah dilahirkan....”

“Kita tak mampu menjelaskan siapa atau apa dia ini sebenarnya.”

“Pemindaian selesai. Energi yang kuat ditemukan di korpus sternum. Lihat....”

“Apa itu?”

“Sensor membaca adanya pembangkit tenaga biologis... bioelektrik berlimpah. Pantas saja entitas gel itu menganggapnya sumber makanan yang lebih menarik daripada gardu induk.”

“Laju regenerasinya melawan hukum termodinamika, tapi senyawa gel ekstraterestrial di elektroda berhasil menekan pemulihannya. Coba perbesar.”

“Ada sesuatu tertanam di dalam sternum. Apa itu?”

Samar-samar Kapten Satria melihat pemindai berhenti tepat di tengah dadanya.

“Bukan organik, bentuknya padat simetri sempurna, seperti artifisial. Bagaimana bisa ada di dalamnya?”

“Apa kita perlu membedah dadanya, Doktor?”

“Biar kita ekstrak bioenerginya dulu. Tambahkan satu jarum ke korpus sternum. Kita sedot cairan sumsumnya.”

Asisten itu mengangguk. Dia meraih sebuah perangkat dari nampan baja di dekatnya, sebuah elektroda ekstraktor dengan jarum logam tebal berongga di bagian tengahnya. Langkah sepatunya berdetak di lantai baja mendekati papan pasung. Sosoknya keluar dari keremangan, masuk ke dalam lingkaran cahaya lampu sorot.

“Maaf...,” ucapnya gugup.

Sang asisten meletakkan dasar logam elektroda itu ke tengah dada Kapten Satria, lalu menekan tuas penguncinya. Namun, alih-alih menembus daging, mekanisme pegas jarum alat itu tertahan dan hanya menggores tipis kulitnya.

Asisten itu terbelalak, menatap alat di tangannya dan dada Satria secara bergantian. “K-kulitnya... tidak bisa ditembus, Dok!” pekiknya panik.

Doktor Aris berdecak. “Ambil bor bedah tulang! Sudah kubilang dia bukan manusia biasa!”

Lihat selengkapnya