“Saya menolak menjadi kelinci percobaan Anda!" tukas Kapten Satria. Otot-ototnya mengeras, berupaya mematahkan belenggu. Namun tenaganya saat ini benar-benar hampa. Elektroda itu benar-benar telah menguras kekuatannya.
"Kamu akan patuh, anak muda," ucap Taipan dengan nada datar. Pria itu berjalan mondar-mandir di depan pasung, lantas berhenti tepat di hadapan Kapten Satria. “Ceritakan, dari mana asalmu sebenarnya? Bagaimana kamu bisa punya kekuatan ini?
Kapten Satria balas menatap dengan tajam, memperlihatkan sikap menantang. Bibirnya tertutup rapat.
Sang Taipan mendengus keras. Dia memandang tetesan air di tabung penampung yang terhubung selang ke tulang dada, lalu tersenyum bengis seakan baru mendapat gagasan. "Dokter, aku tidak punya waktu untuk menunggu satu jarum menetes. Buat lebih cepat.”
Dokter Aris menyeringai. "Sesuai keinginan Bapak." Dia menoleh ke arah asistennya. "Tambahkan jarum ekstraktor ke iga, ilium, dan humerus.”
Asisten itu mengangguk cepat. Dia maju ke anjungan.
“Jahanam...!”
Sang asisten mengarahkan perangkatnya ke tulang rusuk Kapten Satria. Terdengar suara desingan bor mikro yang melengking mengoyak kulit tebalnya, menembus sampai ke lapisan iga. Rahang sang pahlawan menegang disertai erangan tertahan. Bau sangit kalsium yang terbakar menguar, sedangkan lapisan gel ekstraterestrial yang menahan semburan darahnya bertambah melebar.
Setelah itu sang asisten mengulangi prosedur serupa ke tulang panggul dan tulang lengan. Setiap itu pula Kapten Satria hanya mampu mengerang sambil menggertakkan gigi menahan ngilu yang menggigit saraf terdalamnya.
“Selesai, Doktor.”
“Saya ulangi. Apakah kamu mau cerita?”
Kapten Satria menatap Taipan dengan pandangan melotot tajam. “Saya bersumpah akan membunuh Anda!”
“Keras kepala. Doktor, paksa dia bicara!”
Doktor Aris memutar sebuah knop di panel kendalinya. Mesin berdengung rendah menggetarkan lantai baja. Elektroda tebal yang menusuk sekujur tubuh pahlawan itu menyala lebih terang.
Rasa gigitan arus tegangan tinggi terasa lebih menyengat, seakan merobek seluruh urat sarafnya. Daya isap mesin itu bekerja lebih kuat memeras paksa bioelektrik di dalam titik-titik meridian. Aliran cairan genetik yang tertarik langsung dari sumsum tulang membuatnya ngilu sekujur badan. Dalam hitungan detik, seluruh hawa panas dari dalam dagingnya dirampas paksa, menyisakan dingin yang mengiris tulang.
Cairan kemerahan yang berpendar karena mengandung muatan bioelektrik itu mengalir lebih deras dari selang menuju tabung penampung kaca. Saat cairan itu bercampur dengan gel alien, terdengar suara desis seperti api yang dipadamkan air. Setiap tetesnya mengubah warna entitas biologis ekstraterestrial hijau itu menjadi kecokelatan. Sesekali memancarkan kilatan-kilatan listrik statis.
“Kenapa namamu Kapten Satria? Apa kamu ada hubungannya dengan militer, atau cuma panggilan konyol orang-orang? Kenapa identitasmu tidak ditemukan di data kependudukan? Kamu bukan dari Bumi?”