Sementara itu, di sebuah kamar di fasilitas rahasia itu, Zikri terbaring lemah. Ruangan itu sepi. Para penjaga sepertinya meremehkan seorang anak kecil berkaki satu yang sedang sakit parah.
Zikri perlahan membuka matanya. Tenggorokannya kering, kepalanya berdenyut pusing. Dia baru saja hendak memanggil siapa pun yang bisa mendengar ketika pintu kamar berderit terbuka.
Seorang pria berseragam gelap melangkah masuk membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih. Dia meletakkannya di meja kecil samping ranjang tanpa banyak bicara, matanya menghindar dari tatapan Zikri.
"Makan dulu," ucapnya akhirnya, suaranya lebih lembut dari nada dinas yang biasa dia pakai. "Biar ada tenaga."
"Om... di mana ini?" tanya Zikri lirih, suaranya serak. Matanya mengedar panik ke sekeliling kamar asing itu. "Ibu... Ibu di mana? Aku mau pulang, Om..."
Pria itu, Vino, berhenti sejenak. Dia tidak hanya menatap wajah pucat bocah itu lebih lama dari yang seharusnya. Raut Zikri yang memelas membuat dadanya trenyuh.
"Ibumu tidak di sini," jawabnya pendek, menghindari tatapan mata Zikri. "Makan dulu," lanjutnya, suaranya lebih lembut dari nada dinas yang biasa dia pakai. "Biar ada tenaga."
Zikri menahan tangis, bibirnya bergetar, tapi tidak lagi bertanya. Vino berbalik menuju pintu, tangannya sudah di gagang pintu ketika radio di pundaknya berderak keras, memanggilnya untuk kembali berjaga di pos utama. Dia buru-buru melangkah keluar meninggalkan layar monitor keamanan kecil di sudut ruangan yang masih menyala.
Pintu tertutup. Zikri sendirian lagi.
Perhatiannya tertuju pada sebuah layar monitor keamanan yang lupa dimatikan. Di layar itu, Zikri melihat Kapten Satria, pahlawan idolanya, sedang terkulai tak berdaya terpasung di panel logam. Jeritan memilukan sang pahlawan terdengar jelas, disusul dengung mesin yang membuatnya merinding.
"Om Kapten...?" ujarnya lirih. Air mata mengalir ke pipinya. Dia hampir tak percaya pada apa yang dilihatnya. Tapi jeritan memilukan sang pahlawan terdengar jelas dari pengeras suara monitor disusul dengung mesin yang membuatnya merinding.
Lampu pijar di langit-langit kamar Zikri berkedip-kedip redup, tanda bahwa fasilitas rahasia itu kelebihan beban lantaran mesin raksasa di laboratorium itu sedang menyedot daya listrik yang sangat besar.
Alat-alat jahat itu pakai listrik. Kalau alirannya padam, mesinnya pasti mati dan Kapten tidak akan kesakitan lagi.
"Om Kapten... butuh bantuan...."
Zikri memutar kepalanya, menatap stopkontak bervoltase tinggi yang tertanam pada dinding tepat di sebelah ranjangnya. Stopkontak itu terhubung dengan kabel-kabel tebal dari mesin monitor medisnya. Ibunya selalu melarangnya bermain air di dekat colokan karena bisa membuat sekering rumah anjlok dan mati lampu. Tapi saat ini, itu adalah satu-satunya cara.
Tangannya yang gemetar meraih gelas air minum yang tadi ditinggalkan Vino di meja kecil. Dengan sisa tenaga yang ada, dia melemparkan isinya ke arah stopkontak. Percikan kecil menyala sesaat, lalu padam. Tidak cukup.
Matanya beralih ke kantong infus yang menggantung di tiang penyangga logam di samping. Dengan gemetar dan napas terengah-engah, Zikri mencabut jarum selang infus dari tangannya. Diabaikannya darah yang mulai merembes, kemudian ditariknya kantong cairan medis yang menggantung, sehingga terlepas dari tiang penyangga logam.
Zikri menggeser dirinya ke tepi ranjang, memiringkan badannya sedekat-dekatnya ke arah stopkontak dinding. Dia mencengkeram pangkal selang infus di dasar kantong. Lalu dicabutnya selang itu sampai terlepas. Lubang karet di dasar kantong itu kini menganga. Cairan elektrolit jernih mulai tumpah.
Bocah itu meremas kantong infus sehingga air menyembur dari lubang kantong. Diarahkannya pancaran cairan itu ke stopkontak di dinding.
Percikan api biru menyambar dari stopkontak, disertai suara letupan keras. Korsleting di kamar Zikri memicu padamnya aliran listrik, sehingga seluruh fasilitas bawah tanah itu tenggelam dalam gelap. Suara dengungan mesin ekstraktor di laboratorium utama terhenti seketika.
Zikri terkulai lemas ke atas bantalnya. Kesadarannya lenyap karena kehabisan tenaga.
*
Di laboratorium utama, matinya arus listrik membuat sistem pemanas pada elektroda mati seketika. Tanpa stimulasi arus dari lab, gel hijau di dasar elektroda mendadak kehilangan daya isapnya, dan mencair.
Aliran bio-elektrik dari bagian tengah dada Kapten Satria tidak lagi tersedot keluar tubuh, melainkan menyebar ke sekujur ototnya dan memberinya tenaga secara cepat.
Dengan satu sentakan bertenaga murni, Kapten Satria mematahkan belenggu baja yang mengunci pergelangan tangannya.
Samg pahlawan menyentakkan pergelangan tangannya. Belenggu baja itu berderit, tapi tidak patah. Dia mengerang menahan sakit. Rasa tersayat menjalar tajam dari lubang bor di tulang lengannya, tapi dia tak ada pilihan.
Kapten Satria menyentak lebih keras. Kali ini dua ikatan logam yang saling mengunci berderak. Sambungannya retak.
Sekali lagi.
Sentakan ketiga akhirnya membuat belenggu itu patah. Pergelangan tangan kanannya bebas. Dengan tangan yang baru bebas, dia meraih belenggu di pergelangan satunya sampai patah.
Begitu kedua tangan dan kakinya bebas, Kapten Satria mencabut ujung jarum ekstraktor dari lengan sambil meringis menggertakkan gigi menahan linu. Dia mengulangi hal yang sama pada tulang dada, panggul, dan rusuknya itu satu per satu. Darah segar mengucur dari lubang-lubang yang menganga bekas jarum itu.
Kemudian Kapten Satria melepaskan elektroda di dahi, puting, dan ulu hati, meninggalkan jejak merah di kulit.
Dia bangun dari meja operasi, meski masih sempoyongan.
Siksaan itu telah berakhir. Sang pahlawan kini bebas. Waktunya membalas.
*
Beberapa detik kemudian, lampu darurat bercahaya merah berkedip menyala, memberikan penerangan samar-samar.