Rumah Tempat Kita Pulang

Jun Prakoso
Chapter #13

Bab 13

Sementara itu, di sebuah kamar di fasilitas rahasia itu, Zikri terbaring lemah. Ruangan itu sepi. Para penjaga sepertinya meremehkan seorang anak kecil berkaki satu yang sakit parah.

Zikri perlahan membuka matanya. Tenggorokannya kering, kepalanya berdenyut pening. Dia baru saja hendak memanggil siapa pun yang bisa mendengar ketika pintu kamar berderit terbuka.

Seorang pria berseragam gelap melangkah masuk membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih. Dia meletakkannya di meja kecil samping ranjang tanpa banyak bicara.

“Om... di mana ini?” tanya Zikri lirih, suaranya serak. Matanya menyapu sekeliling kamar asing itu. “Ibu... Ibu di mana? Aku mau pulang, Om...”

“Makan dulu,” ucapnya dengan halus. “Biar ada tenaga.”

Pria itu Vino. Dia berdiri sejenak, sambil menatap wajah pucat bocah itu lekat-lekat. Lalu dia menghirup udara dan mengembuskannya lambat-lambat.

Zikri menahan tangis, bibirnya bergetar, tapi tidak lagi bertanya. Vino berbalik menuju pintu, tangannya sudah di gagang pintu ketika radio di pundaknya berbunyi, memanggilnya kembali berjaga di pos utama. Dia buru-buru melangkah keluar.

Pintu tertutup. Zikri sendirian lagi.

Perhatiannya tertuju pada sebuah monitor keamanan yang menyala. Di layar itu, Zikri melihat pahlawan idolanya terkulai tak berdaya terpasung di papan logam. Jeritan memilukan Kapten Satria terdengar jelas dari pengeras suara, disusul dengung mesin yang membuatnya merinding.

“Om Kapten...?” ujarnya lirih. Air mata menetes di pipinya. Dia hampir tak percaya pada apa yang dilihatnya.

Lampu pijar di langit-langit kamar Zikri berkedip-kedip redup, tanda bahwa fasilitas rahasia itu kelebihan beban. Mesin raksasa di laboratorium itu menyedot daya listrik yang sangat besar.

“Om Kapten... butuh bantuan....”

Zikri mengalihkan pandangan ke stopkontak bervoltase tinggi yang tertanam pada dinding tepat di sebelah ranjangnya. Kabel-kabel tebal dari mesin monitor medisnya menancap ke sana.

Alat-alat jahat itu pakai listrik. Kalau padam, mesinnya pasti mati dan Om Kapten takkan kesakitan lagi. Colokan besar di sebelahku ini pasti nyambung ke sana.

Ibunya selalu melarangnya bermain air di dekat colokan karena bisa membuat sekering rumah anjlok dan mati lampu. Tapi saat ini, justru itu satu-satunya cara.

Tangannya yang gemetar meraih gelas air minum yang ditinggalkan Vino di meja kecil. Dengan tenaga yang tersisa, dia siramkan isinya ke arah stopkontak. Percikan kecil menyala sesaat, lalu padam. Tidak cukup.

Matanya melirik ke kantong infus yang menggantung di tiang penyangga logam di samping ranjang. Dengan napas patah-patah, Zikri mencabut jarum selang infus dari tangannya. Diabaikannya darah yang mulai merembes, lalu ditariknya kantong itu sampai terlepas dari tiang.

Zikri bergeser ke tepi ranjang, memiringkan badannya sedekat-dekatnya ke arah stopkontak. Dicengkeramnya pangkal selang infus di dasar kantong. Lalu dicabutnya selang itu sampai terlepas. Lubang karet di dasar kantong itu kini menganga. Cairan elektrolit jernih mulai tumpah.

Bocah itu meremas kantong infus sehingga cairan itu menyembur dari lubang kantong. Diarahkannya semprotannya ke stopkontak di dinding.

Percikan api biru menyambar dari stopkontak, disertai letupan keras. Arus listrik menjalar naik lewat aliran elektrolit infus, menyengat tangan Zikri sampai ke bahu. Tubuh kecilnya terkejang-kejang sesaat, lalu terlontar ke kasur. Kesadarannya lenyap karena sengatan itu.

Korsleting di kamar Zikri memicu padamnya aliran listrik, sehingga seluruh fasilitas bawah tanah itu tenggelam dalam gelap. Mesin ekstraktor di laboratorium utama berhenti mendengung.

*

Di laboratorium utama, matinya arus listrik membuat elektroda kehilangan daya isapnya. Tanpa stimulasi arus dari lab, bantalan lendir di dasar elektroda mencair.

Aliran bioelektrik dari bagian tengah dada Kapten Satria tidak lagi tersedot keluar tubuh, melainkan menyebar ke otot-otot dan mengembalikan tenaganya secara cepat.

Kapten Satria menyentakkan belenggu baja di pergelangan tangan. Belenggu baja itu berderit, tapi tidak patah. Namun, gerakan itu menarik otot-otot yang luka, memicu rasa tersayat yang menjalar. Sang pahlawan mengerang tertahan.

Kapten Satria menyentak lebih kuat. Kali ini dua ikatan logam yang saling mengunci berderak. Sambungannya retak.

Sekali lagi.

Sentakan ketiga akhirnya mematahkan belenggu itu. Pergelangan tangan kanannya bebas. Dengan tangan yang baru saja lepas, direnggutnya belenggu di pergelangan satunya sampai patah.

Begitu tangan dan kakinya leluasa, Kapten Satria mencabut ujung jarum ekstraktor dari lengan sambil meringis. Dia mengulangi hal yang sama pada tulang dada, panggul, dan rusuknya. Darah mengucur dari lubang-lubang bekas jarum itu.

Kemudian Kapten Satria melepaskan elektroda di dahi, puting dada, ulu hati, dan paha, menyisakan jejak merah di kulit.

Dia bangun dari meja operasi, meski sempoyongan.

Siksaan itu telah berakhir. Sang pahlawan kini merdeka. Waktunya membalas.

*

Lampu darurat menyala, memberikan penerangan seadanya.

Pemandangan di bawah cahaya temaram itu membuat Sang Taipan tegang. Meja operasi itu kosong. Selang-selang elektroda dan ekstraktor menjuntai putus ke lantai. Kapten Satria lolos.

“Apa yang terjadi? Kenapa sistem utamanya mati?” pekik marah Sang Taipan dalam remang-remang.

Lihat selengkapnya