Kapten Satria langsung mendekat ke samping ranjang bocah itu. Tangan kekarnya yang gemetar perlahan mengangkat dan menyangga kepala Zikri dengan sangat lembut. Dia menunduk dengan mata sendu. Dadanya remuk melihat wajah lemah bocah yang telah menyelamatkan dirinya dua kali.
“Zikri, kamu aman sekarang. Om di sini,” ucapnya lembut.
Kapten tahu dia harus bergegas membawa anak itu ke rumah sakit. Dia melirik badannya yang bersimbah darah.
Sang pahlawan menarik napas dalam-dalam. Dia menekan tengah dadanya yang luka itu sambil menahan pedih. Batu kristal di dalamnya menanggapi. Pendaran partikel nano putih redup menyebar dari pusat dada ke segenap permukaan kulit, dan menyelimuti tubuh yang nyaris telanjang itu.
Setelan kesatrianya kembali terpasang sempurna. Tidak hanya menutupi tubuhnya, tapi juga membalut lubang-lubang luka di area dada, lengan, dan panggul, menghentikan pendarahan sementara.
“Ayo kita pulang, Zikri,” bisik Kapten Satria sambil mengangkat tubuh kecil itu dalam dekapan.
Tiba-tiba terdengar suara bergemuruh. Kamar itu berguncang. Dari arah laboratorium, terdengar gemertak bongkahan karang silikat yang mengembang menekan fondasi. Langit-langit beton mulai retak, debu, pasir, dan kerikil berjatuhan.
Ruang bawah tanah ini mau amblas....
Kapten Satria bergegas membopong Zikri keluar ruangan dan menjadikan punggung kekarnya sebagai tameng dari puing.
Di ujung tikungan, matanya menangkap cahaya hijau fosfor berpendar dari sebuah plakat penunjuk arah: TANGGA EVAKUASI.
Dia terbang di dalam lorong menuju pintu darurat. Dibukanya pintu itu. Di baliknya, membentang anak tangga beton lingkar persegi menuju permukaan.
Kapten Satria melayang membawa Zikri menyusuri undakan tangga darurat. Di bawah mereka, anak tangga terbawah mulai retak dan runtuh, ditelan bongkahan karang silikat yang merayap dari bawah. Hawa panasnya menyesakkan ruang sempit itu.
Di pengujung tangga, Kapten Satria membuka pintu pelat baja. Angin malam langsung menyapu wajah mereka, mengalahkan bau pengap bahan kimia di bawah. Mereka telah berhasil lolos ke pelataran belakang eks pabrik peleburan baja itu.
Sang pahlawan melesat ke udara dengan Zikri dalam dekapan, lalu terbang menembus malam. Jauh di bawah mereka, terdengar gemuruh panjang. Fasilitas rahasia itu runtuh ditelan perut bumi.
*
Di ujung lorong, samar-samar sesosok bayangan berdiri di balik tiang beton. Saat lantai bergetar oleh reruntuhan di kejauhan, dia berusaha menjaga keseimbangan. Dia sudah bersiaga di sana sejak suara ledakan gas menggema. Namun, senjata laras panjang di tangan, belum pernah dia tembakkan.
Dia menyaksikan semuanya: pahlawan berlumuran darah yang menggendong bocah kecil sekarat itu keluar dari kamar tahanan. Anak yang wajahnya sepucat wajah adiknya dulu.
Debu pasir dan kerikil berjatuhan dari langit-langit lorong. Di kejauhan, terdengar gemuruh beton runtuh semakin mendekat.
Radio di pundaknya berderak, suaranya nyaris tenggelam oleh gemuruh. “Vino, lapor posisi! Tembak target di tempat jika terlihat!”
Jarinya menekan tombol bicara. Tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya lebih lama saat melihat Kapten Satria membuka pintu darurat sambil membopong anak itu, lalu menghilang di baliknya.
“Nihil,” ucapnya akhirnya. “Lorong ini kosong. Aku keluar lewat pintu evakuasi barat....”
“Fasilitas runtuh! Evakuasi seka....” Terdengar jeritan memilukan dari suara radio di seberang sebelum menyelesaikan perintahnya.
Sebongkah beton yang jatuh tak jauh dari kaki menyadarkan Vino. Dia segera berbalik dan berlari menjauh menyusuri lorong yang mulai retak, menuju tangga darurat yang lain. Dinaikinya anak tangga secepat-cepatnya. Akhirnya dia berhasil mencapai ruang terbuka.
Vino memegang lututnya yang pegal dengan napas tersengal-sengal. Fasilitas itu hancur. Tapi untuk kali pertama, beban di dada lenyap.
*
Tiupan angin malam menyelimuti kota, tapi pancaran bioelektrik hangat sang pahlawan memberi Zikri selubung nyaman dalam buaian.
Setelah beberapa menit, mereka tiba di atas rumah sakit. Dengan gerakan yang sangat halus dan tanpa suara, Kapten Satria melayang turun dan membuka selot jendela kaca Kamar 706 dari luar, lalu masuk melewati bingkai jendela. Dibaringkannya Zikri ke ranjang dengan hati-hati, lalu ditekannya tombol di samping untuk memanggil perawat.
Tak lama pintu terbuka, seorang perawat masuk dengan raut terbelalak melihat pasien yang hilang itu telah kembali berbaring di ranjang. Namun, dia tak menemukan seorang pun yang membawanya pulang.
“Ya, Tuhan, Zikri! Syukurlah...,” ujarnya lega.
Perawat itu dengan sigap mempersiapkan peralatan dan memasang kembali jarum infus ke tangan kecil Zikri. Kapten Satria berdiri mengambang di luar jendela memperhatikan semua itu dari udara, memastikan bahwa bocah itu benar-benar tertangani dengan baik.
Kapten Satria memandang Zikri yang tidur pulas di balik selimut. Jejak penderitaan karena kanker tergambar di wajah sayu itu, tapi dia terlihat sangat tabah.
Sang pahlawan mengembuskan udara. Sebuah beban berat telah terangkat dari dadanya. Dia berbalik, lalu melesat ke angkasa, menghilang di antara bintang-bintang.