Rumah Tempat Kita Pulang

Jun Prakoso
Chapter #15

Bab 15

Malam itu, apartemen Setio remang-remang, hanya satu lampu lantai di sudut ruangan menyala redup. Dia terduduk di karpet, bersandar pada tepi sofa. Kemeja flanel kusut dikenakannya sejak pagi tadi, sedangkan perban di baliknya belum sempat dia ganti.

Di luar jendela kaca berbingkai aluminium, kota tetap gemerlap seperti biasa. Tak acuh pada anak sebelas tahun yang baru saja terbujur kaku di lantai tujuh rumah sakit karena terlambat ditangani.

Setio menatap guratan telapak tangannya. Tangan itu beberapa hari lalu mematahkan belenggu baja, meremukkan tulang pasukan bersenjata, dan menghukum Sang Taipan sampai menjadi arang. Tangan sama yang menggenggam jari-jari mungil Zikri yang dingin sampai denyut nadinya lenyap.

Seandainya dia tidak membiarkan bocah itu berjuang sendiri di gubuk kumuh itu terlalu lama....

Dia menatap langit-langit apartemennya yang kosong. Tak ada foto keluarga yang menghiasi dinding. Tak ada mainan anak yang berserakan di lantai.... Bukan seperti ini kehidupan yang pernah dia bayangkan.

Dipejamkannya mata. Bayangan wajah pucat Zikri yang tersenyum di detik-detik terakhir melintas. Gema suara lemah itu masih terngiang-ngiang. “Om... aku bahagia punya Om Setio... ayahku, pahlawanku....”

Dia membuka mata perlahan, lalu menoleh ke arah laci nakas di sudut ruangan. Tangannya menarik gagang laci itu dan mengeluarkan sebuah bingkai kayu yang tertelungkup. Di baliknya potret wajah oval seorang perempuan berambut sebahu. Dia tersenyum cerah sambil memeluk erat balita laki-laki berpipi tembam menggemaskan.

Semua mimpi indah itu lenyap bersama kepergian mereka....

Udara di sekitarnya terasa hampa. Kenangan tawa putranya di masa lalu itu seakan berbaur dengan senyum pucat Zikri. Seumpama masih hidup, Bima akan seusia Zikri....

Tapi kini, dia menerima kenyataan pahit harus kehilangan untuk kedua kali.

Pandangan Setio menyapu sekeliling ruangan. Nyaman, tapi tidak lagi serasa pulang.

Getaran ponsel di atas meja kaca mendadak memecah keheningan. Cahaya layarnya menerangi ruang remang-remang itu. Nama Arif muncul di layar. Sesaat Setio hanya menatapnya, membiarkannya sampai panggilan itu berhenti sendiri.

Dia bangkit, melangkah menuju jendela, lalu menyibak tirainya lebar-lebar. Manusia di bawah sana terus bergerak, menikmati hidup dengan tawa. Padahal kebahagiaan bisa direnggut kapan saja. Sama seperti yang dialaminya.

Dia lantas merebahkan badan di sofa, termenung memandang langit-langit sampai lelah membuatnya terlelap tanpa sempat mematikan lampu.

*

Suasana kantor redaksi RTC Media esok harinya dipenuhi aroma kopi. Layar kaca yang menempel di dinding memampang foto wajah tokoh: Hendra Salim.

Kepala berita muncul di layar dengan latar teks merah menyala: LEDAKAN DI EKS PABRIK TUA PELEBURAN BAJA: FILANTROPIS HENDRA SALIM DITEMUKAN TEWAS TERBAKAR.

Seorang penyiar berita membacakan laporannya dengan dahi berkerut.

“Tim forensik gabungan kepolisian dan TNI masih menyelidiki penyebab ledakan yang meruntuhkan ruang bawah tanah tersembunyi di area pabrik baja yang telah sepuluh tahun ditutup.

“Di sana ditemukan fasilitas penelitian bioteknologi yang runtuh dan zat silikat yang memenuhi ruangan. Diduga zat ini meluber dari isolasi dan memicu ledakan kimia. Aparat menemukan jasad Hendra Salim, Dirut PT Eterna Biomedika, terikat pada meja operasi dalam keadaan mengering karena terbakar.”

Tampilan di layar berganti, memperlihatkan lorong beton bawah tanah yang runtuh dan dipasangi garis polisi.

“Selain jasad Hendra Salim, aparat juga mengevakuasi delapan belas jasad dan korban luka berat dari kelompok pengawal pribadi bersenjata, serta dua orang peneliti. Salah seorang peneliti ditemukan tewas diduga akibat benturan keras sesaat sebelum ruangan itu ambruk. Korban diidentifikasi sebagai Doktor Aris Wibawa, Kepala Riset Bioteknologi PT Eterna Biomedika.

“Satu peneliti lainnya selamat dengan luka berat dan kini menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik gabungan. Namun, dia mengaku tidak mampu mengingat kejadian akibat trauma kepala.

“Semua jasad tertekan oleh zat silikat tak dikenal yang mengembang ke penjuru ruangan sehingga tulang-tulang mereka remuk. Polisi juga menemukan puluhan selongsong peluru bertebaran di tempat kejadian.”

 

Di sudut meja kerjanya, Setio duduk bersandar. Jemarinya yang biasanya lincah kini bertumpu diam di atas kibor. Desingan putaran bor bedah itu masih terngiang-ngiang di benaknya. Namun, yang membuatnya ngilu bukan itu, melainkan suara melengking panjang monitor jantung di Kamar 706.

Pintu ruangan kaca editorial terbuka. Arif melangkah keluar. Pria paruh baya itu berjalan mendekat, lalu berdiri di samping meja Setio sambil melipat tangan di dada. Dia ikut menyaksikan siaran persiapan pemakaman megah Hendra Salim yang dihadiri para pejabat tinggi.

“Dunia memang panggung sandiwara,” gumam Arif. “Lab rahasia, pasukan bersenjata lengkap. Itu semua pelanggaran hukum. Entah operasi haram apa yang dia lakukan di sana. Tapi dia malah dilepas ke liang kubur seperti pahlawan.”

“Ya, begitulah, Bang. Orang ini penjahat berkedok sosial. Sudah banyak pihak yang dia beli dengan topeng kedermawanan,” sahut Setio.

Lihat selengkapnya