Malam itu, apartemen Setio remang-remang, hanya satu lampu lantai di samping sofa menyala redup. Dia terduduk di karpet, bersandar pada tepi sofa kulitnya, dengan kemeja flanel kusut yang dikenakannya sejak pagi tadi. Di luar jendela kaca berbingkai aluminium itu, kota tetap berkelap-kelip gemerlap seperti biasa. Seolah tak terjadi apa-apa hari ini, acuh tak acuh pada dukanya. Seakan tidak tahu ada anak sebelas tahun yang baru saja terbujur kaku di lantai tujuh rumah sakit karena terlambat ditangani.
Setio menatap guratan garis telapak tangannya. Tangan yang beberapa hari lalu mematahkan belenggu baja, meremukkan tulang pasukan bersenjata, dan menghukum Sang Taipan sampai menjadi arang. Tangan sama yang sore tadi menggenggam jari-jari mungil Zikri yang semakin dingin sampai denyut nadinya lenyap.
Dia mampu meruntuhkan pabrik baja dan menghilangkan penjahat paling berkuasa di seluruh negeri. Namun, tak sanggup mencegah sel kanker menggerogoti tubuh anak sebelas tahun.
Rasa bersalah terhadap bocah itu seakan membelah ulu hatinya.
Semua orang akan mati, tapi Zikri... dia masih kecil. Seharusnya dia bisa berbuat lebih. Seharusnya dia bisa membawa Zikri ke rumah sakit sejak awal, bukan sekadar memberinya sepasang kruk baru. Sendainya dia tidak membiarkan bocah itu berjuang melawan rasa sakit di gubuk yang kumuh itu.
Zikri terlalu polos, terlalu suci untuk ditelantarkan. Anak berkaki satu itu tanpa ragu menerjang monster dengan sebotol cuka demi menolong orang lain itu sedangkan dia sendiri sakit. Dia berhati emas, hati nurani yang sesungguhnya sangat dibutuhkan masyarakat yang kehilangan arah ini. Namun, dia justru diabaikan.
Di luar sana, esok pagi stasiun televisi pasti akan menyiarkan obituari megah untuk Hendra Salim, sosiopat serakah yang rela mengorbankan siapa saja demi hasrat egoisnya. Namun, dia akan dipuja bak pahlawan.
Zikri, pahlawan yang sejati, meninggal tanpa ada satu pun tajuk berita yang mengenangnya. Keadilan macam apa ini? Ironi yang memuakkan menebas akal sehatnya. Otot rahang Setio mengeras. Ingatannya lalu tertuju pada Hendra Salim. Wajah sang taipan mengejang di bawah sengatan bioelektrik kepunyaannya yang dia renggut paksa. Setio tidak menyesal sedikit pun. Dia justru puas mengingat sosok perampok kerah putih yang menculik Zikri dan memasung dirinya itu menjadi arang.
Dia menatap langit-langit apartemennya yang kosong. Tidak ada foto keluarga yang menghiasi dinding. Tidak ada mainan anak yang berserakan di lantai. Kehidupan yang bukan seperti yang pernah dia bayangkan.
Setio memejamkan mata. Bayangan wajah pucat Zikri yang tersenyum di detik-detik terakhir kembali melintas cepat. Gema suara lemah itu terngiang di telinganya. "Om... aku bahagia punya Om Setio... ayahku, pahlawanku...."
Ketakutannya pada luka masa lalu telah membuatnya terlambat menyadari betapa besar arti kehadirannya bagi bocah itu. Dia baru sempat merengkuhnya dengan kasih sayang yang utuh menjelang akhir, saat kesempatan untuk memberinya kebahagiaan sejati sudah nyaris habis.
Dia membuka matanya perlahan, lalu menoleh ke arah laci nakas di sudut ruangan. Tangannya menarik gagang laci itu dan mengeluarkan sebuah bingkai kayu yang tertelungkup. Di bawah cahaya remang, tergambar wajah oval seorang perempuan berambut sebahu yang tersenyum cerah, memeluk erat balita laki-laki berpipi tembam.
Semua mimpi indah itu hilang bersama kepergian mereka.
Udara di sekitarnya mendadak terasa hampa. Kenangan tawa putranya di masa lalu itu seakan berbaur dengan senyum pucat Zikri. Andai masih hidup, putranya akan seusia Zikri....
Setio seakan melihat ada pantulan anaknya sendiri pada sosok Zikri. Tapi kini, dia menerima kenyataan pahit harus kehilangan untuk kedua kali.
Pandangan Setio menyapu sekeliling ruangan. Nyaman, tapi tidak lagi serasa pulang. Rasanya ada yang hilang.
Getaran ponsel di atas meja kaca mendadak memecah keheningan. Cahaya layarnya menerangi ruang remang-remang itu. Nama Arif muncul di layar. Sesaat Setio menatapnya lekat-lekat, membiarkannya sampai panggilan itu berhenti sendiri.
Dia bangkit, melangkah gontai menuju jendela, lalu menyibak tirainya lebar-lebar. Kehidupan di bawah sana terus bergerak. Mungkin ada ribuan orang kehilangan setiap hari seperti yang dia alami malam ini. Sebagian lagi mungkin tengah tertawa bersama orang-orang yang mereka cintai, tanpa sadar bahwa kebahagiaan mereka itu bisa sirna kapan saja. Dan kita semua tak bisa melawan takdir.
Dia lantas merebahkan badan di sofa dengan mata terbuka memandang langit-langit, termenung seorang diri sampai akhirnya lelah membuatnya mengantuk. Dia pun tertidur di sana tanpa sempat mematikan lampu.
*
Suasana kantor redaksi RTC Media sepekan kemudian dipenuhi aroma kopi yang menyebar di dalam ruangan. Layar kaca yang menempel di dinding memampang foto wajah tokoh: Hendra Salim.
Kepala berita di layar muncul di layar dengan latar teks merah menyala: LEDAKAN DI EX-PABRIK TUA PELEBURAN BAJA: FILANTROPIS HENDRA SALIM DITEMUKAN TEWAS TERBAKAR.
Seorang pembaca berita membacakan laporannya dengan dahi berkerut.
"Tim forensik gabungan kepolisian dan TNI masih berusaha menyelidiki penyebab ledakan yang menghancurkan ruang bawah tanah tersembunyi di area pabrik baja yang telah sepuluh tahun ditutup.
“Di ruang bawah tanah itu ditemukan fasilitas penelitian berteknologi tinggi yang runtuh dan zat silikat yang memenuhi ruangan. Diduga zat ini meluber dari isolasi dan memicu ledakan kimia. Di sana aparat menemukan jasad Hendra Salim, Dirut PT Eterna Biomedika, dalam keadaan mengering karena terbakar, dan terikat pada semacam meja operasi.”
Tampilan di layar berganti, memperlihatkan lorong beton bawah tanah yang runtuh dan dipasangi garis polisi.
"Selain jasad Hendra Salim, aparat juga mengevakuasi delapan belas jasad dan korban luka berat dari kelompok pengawal pribadi bersenjata, serta dua orang peneliti. Salah seorang peneliti ditemukan tewas diduga akibat benturan keras sesaat sebelum ruangan itu ambruk. Korban yang namanya tidak pernah muncul dalam struktur resmi perusahaan diidentifikasi sebagai Doktor Aris Wibawa, Kepala Riset Bioteknologi PT Eterna Biomedika.