Rumah Tujuh Cahaya

Muhammad Ibrahim
Chapter #1

Kelas Terakhir Sebelum Kabar Itu

Pagi itu, Gilang Sastro sedang menjelaskan tentang majas personifikasi kepada tiga puluh dua murid kelas sebelas ketika HPnya bergetar untuk pertama kali.

Ia tidak menoleh. Sudah kebiasaan—selama empat puluh lima menit pelajaran, HP harus terbalik di atas meja guru, layar menghadap ke bawah. Aturan yang ia buat untuk dirinya sendiri, bukan untuk murid-muridnya. Kalau gurunya saja tidak bisa menahan godaan layar, bagaimana ia mau menuntut muridnya fokus?

"Perhatikan kalimat ini," kata Gilang, mengetuk papan tulis dengan ujung spidol. "'Angin berbisik di antara dedaunan.' Apakah angin benar-benar bisa berbisik?"

"Tidak, Pak."

"Tapi kita semua bisa merasakannya, bukan? Bisa membayangkannya? Itulah kekuatan bahasa. Ia tidak selalu bertugas melaporkan fakta. Kadang tugasnya adalah membuat kita merasakan sesuatu yang sesungguhnya tidak ada—atau yang ada tapi tidak terlihat."

HP bergetar lagi.

Gilang tetap tidak menoleh.

Seorang murid perempuan di baris depan—Naura, yang selalu duduk paling dekat dengan papan tulis karena matanya minus empat—mengangkat tangan.

"Pak, HP Bapak bunyi terus."

"Iya, Naura, Bapak tahu."

"Mungkin penting, Pak."

"Semua hal terasa penting sebelum kita tahu isinya. Sekarang, coba kalian buat satu kalimat dengan majas personifikasi. Tema bebas. Lima menit."

Kelas bergerak. Kepala-kepala menunduk ke buku. Gilang berjalan pelan menyusuri sela-sela bangku sambil sesekali mengangguk melihat coretan murid-muridnya. Ada yang menulis tentang matahari yang tersenyum. Ada yang menulis tentang laut yang marah. Satu murid laki-laki di pojok belakang—Radit, yang hampir tidak pernah menulis lebih dari dua kalimat—menulis: "Rinduku mengetuk pintu rumahmu setiap malam." Gilang berhenti sebentar di sana. Membaca ulang. Kemudian mengangguk pelan dan melanjutkan langkahnya tanpa berkata apa-apa.

Kadang hal terbaik yang bisa dilakukan seorang guru adalah diam dan memberi ruang.

HP bergetar ketiga kali.

Keempat.

Kelima.

Gilang akhirnya berbalik ke mejanya. Ia angkat HP, lihat layarnya sekilas, lalu taruh lagi menghadap bawah. Ia kembali ke papan tulis. Tapi kali ini tangannya tidak langsung menulis. Ia berdiri sebentar dengan punggung menghadap kelas, dan di sana—di antara coretan spidol dan bau ruangan yang campuran antara debu buku dan kipas angin —sesuatu mengganjal di dadanya.

Lima panggilan tak terjawab. Semua dari nomor yang sama.

Dari Mas Danu.

Mas Danu tidak pernah menelepon lebih dari sekali kalau tidak benar-benar perlu.

* * *

Lihat selengkapnya