Ada sesuatu yang aneh dari perjalanan pulang kampung saat ada kabar buruk menunggu di ujungnya. Waktu terasa lebih panjang dan lebih singkat sekaligus—setiap kilometer seperti butuh waktu lama untuk dilalui, tapi setiap menit terasa seperti terbang.
Gilang menutup mata dan membiarkan dirinya mengingat.
Keluarga Sastro.
Tujuh bersaudara dari sepasang orang tua yang tidak pernah kaya tapi juga tidak pernah benar-benar miskin—Pak Sastro yang bertani dan sesekali jadi buruh bangunan, Bu Sari yang berdagang di pasar sejak sebelum Gilang lahir. Rumah mereka adalah rumah joglo tua warisan kakek buyut, berdiri di desa Sokowati, Magelang, dengan halaman yang cukup lebar untuk anak-anak berlari dan pohon mangga yang sudah lebih tua dari semua penghuninya.
Gilang adalah yang termuda. Nomor tujuh.
Ia tidak selalu nyaman menjadi yang termuda. Menjadi bungsu dalam keluarga besar berarti kamu adalah yang terakhir diajak bicara soal keputusan penting, yang pertama diingat saat ada yang butuh ditolong, dan yang paling sering dianggap belum cukup dewasa—bahkan saat kamu sudah tiga puluh dua tahun dan mengajar anak orang lain cara berpikir kritis.
Tapi ada satu hal yang menjadi bungsu berikan padanya: waktu untuk mengamati.
Ia mengamati semua saudaranya bertumbuh, berubah, pergi, dan—beberapa di antaranya—kembali. Ia mengamati mereka dari sudut ruangan saat rapat keluarga. Dari balik pintu kamar saat ada yang bertengkar. Dari balik buku saat semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Dan dari pengamatan itu, Gilang punya semacam peta—peta tidak resmi tentang keluarganya sendiri.
Mas Hafidz. Anak pertama. Empat puluh delapan tahun. Wajahnya sudah lebih banyak garis sekarang, tapi cara bicaranya tidak berubah—tegas, langsung, seolah setiap kalimat adalah keputusan yang sudah diambil sebelum diucapkan. Ia sekarang ustadz yang cukup dikenal di kecamatan, punya pengajian rutin di masjid desa dan keliling ke beberapa desa tetangga. Ibu selalu bilang Hafidz itu sudah tahu mau jadi apa sejak kelas empat SD—duduk di depan, hapalan Quran paling cepat, tidak pernah terlambat sholat.
Yang tidak selalu Ibu ceritakan adalah bahwa Hafidz juga anak yang paling sulit mengakui kesalahannya.