Rumah Tujuh Cahaya

Muhammad Ibrahim
Chapter #3

Rumah yang Masih Berdiri

Desa Sokowati berdiri di tempat di mana jalan aspal berhenti dan jalan batu bata merah mengambil alih—sekitar tiga kilometer setelah pasar kecamatan, belok kiri di pertigaan yang punya warung es teh paling enak se-kecamatan, lurus terus melewati kebun singkong, dan setelah jembatan kecil di atas sungai yang airnya selalu jernih di musim kemarau, ada sebuah rumah joglo dengan halaman lebar yang pohon mangganya sudah lebih tua dari semua orang yang pernah tinggal di dalamnya.

Gilang turun dari ojek online di ujung gang pukul setengah tiga. Ia tidak langsung masuk. Ia berdiri sebentar di depan pagar—pagar kayu yang catnya sudah mengelupas di beberapa tempat, yang Bapak selalu bilang akan diperbaiki musim depan tapi tidak pernah sempat—dan hanya memandang.

Rumah joglo itu masih berdiri.

Tentu saja masih berdiri—itu pikiran yang konyol. Rumah itu sudah berdiri sebelum Gilang lahir dan tidak ada alasan ia tidak akan berdiri saat Gilang datang. Tapi ada sesuatu yang selalu ia rasakan saat melihat rumah itu setelah lama pergi—semacam lega yang bercampur dengan rindu yang bercampur dengan sesuatu yang tidak punya nama. Seolah ada bagian dari dirinya yang meragukan apakah rumah itu masih ada sampai ia melihatnya sendiri.

Halaman depan terlihat rapi—rumput dipangkas, pot-pot bunga Ibu masih ada di tepi beranda, beberapa pasang sandal berjajar di depan pintu. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Sepi. Bukan sepi karena tidak ada orang—ada satu sepeda motor di samping rumah, berarti seseorang ada di dalam. Tapi sepi dengan cara lain. Cara yang Gilang butuh beberapa detik untuk mengenalinya.

Tidak ada suara dari dapur.

Biasanya—setiap kali Gilang pulang, tanpa peduli jam berapa, tanpa peduli sudah dikabari atau tidak—selalu ada suara dari dapur. Paling tidak suara radio kecil yang Ibu selalu nyalakan. Atau suara wajan. Atau suara Ibu itu sendiri, bersenandung atau berbicara kepada siapa saja yang kebetulan lewat.

Sekarang, tidak ada.

Gilang membuka pagar. Berjalan ke beranda. Mengetuk pintu dua kali sebelum membukanya sendiri—pintu memang tidak pernah dikunci siang hari, kebiasaan yang Ibu pertahankan meskipun Mas Hafidz sudah berkali-kali bilang zaman sekarang tidak aman.

"Mas Danu?"

Tidak ada jawaban. Gilang masuk ke dalam. Ruang tamu—dengan kursi kayu tua, foto-foto keluarga di dinding, dan satu rak buku tipis yang isinya campuran buku agama dan majalah Trubus lama—terasa lebih besar dari biasanya. Atau mungkin terasa lebih kosong.

Di dinding, foto-foto itu memandangnya. Foto Mas Bagas dalam seragam militer. Foto Mbak Ratih dan Mbak Wulan waktu masih kecil. Foto Bapak dan Ibu di hari pernikahan mereka—hitam putih, Bapak muda dengan jas yang kelihatannya dipinjam, Ibu dengan kebaya putih dan senyum yang sama persis dengan senyumnya sekarang. Foto tujuh bersaudara—diambil mungkin dua belas atau tiga belas tahun lalu di studio foto kecamatan, semuanya berpakaian rapi, semuanya terlihat sedikit kaku.

Lihat selengkapnya