Ruangan konsultasi dokter di RSUD itu kecil. Dindingnya putih yang sudah sedikit kekuningan, ada poster anatomi manusia yang sudah kusam di salah satu sudut, dan kursi plastik biru yang dibeli mungkin dua dekade lalu dan sudah kehilangan sebagian kenyamanannya. Gilang dan Mas Danu duduk berdampingan di seberang meja dokter.
Dokternya masih muda—mungkin awal tiga puluhan, dengan kacamata kotak tipis yang mirip dengan kacamata Gilang sendiri. Namanya dr. Hendra, tapi bukan Mas Hendra ipar mereka. Dokter ini punya cara bicara yang langsung dan terukur, cara yang mungkin ia pelajari untuk menyampaikan berita yang tidak menyenangkan tanpa membuat pasien dan keluarga panik.
"Setelah hasil laboratorium dan CT scan keluar tadi pagi," kata dr. Hendra, memperhatikan layar laptopnya sebentar sebelum menatap mereka berdua, "kami menemukan adanya massa di serviks ibu Bapak-Bapak. Dari gambarannya, ini mengarah ke kanker serviks."
Kalimat itu mendarat di ruangan seperti sesuatu yang jatuh dari ketinggian.
Gilang tidak langsung bereaksi. Ia merasa seperti ada jeda—sepersekian detik di mana otaknya sedang memproses dan belum selesai, dan di jeda itu ia hanya bisa menatap dokter muda di depannya tanpa ekspresi.
Mas Danu di sampingnya tidak bergerak.
"Stadium berapa?" tanya Mas Danu. Suaranya tidak bergetar. Datar. Tapi Gilang merasa tanpa melihat pun bahwa tangan abangnya di bawah meja sedang mencengkeram lututnya sendiri.
"Stadium tiga. Masih bisa ditangani, tapi butuh penanganan yang cepat dan intensif. Kemoterapi dan kemungkinan radioterapi. Kami perlu merujuk ibu Bapak ke RS yang punya fasilitas onkologi lebih lengkap—"
Gilang tidak mendengar kalimat berikutnya. Ia masih di stadium tiga. Stadium tiga. Artinya sudah tidak kecil, sudah tidak awal, tapi dokter bilang masih bisa ditangani. Masih bisa. Kata-kata itu ia pegang.