Rumah Tujuh Cahaya

muhaibra
Chapter #5

Tujuh Kursi

Mereka semua tiba dalam gelombang yang berbeda, seperti ombak yang tidak berunding satu sama lain tapi akhirnya tiba di pantai yang sama.

Mbak Ratih datang pukul enam sore, langsung dari pasar. Masih memakai celemek yang dilipat dan dimasukkan ke dalam tas—lupa atau memang tidak sempat menaruhnya. Wajahnya yang sudah terlihat tua dari usianya semakin terlihat berat, tapi langkahnya cepat dan tangannya langsung bergerak—mengangkat tas, menata sesuatu, mencari sesuatu yang bisa dilakukan.

Mas Hafidz datang keesokan paginya, bersama istrinya yang diam-diam dan anak sulungnya yang sudah kelas dua SMP. Ia masuk dengan doa yang sudah ada di bibirnya sebelum pintu terbuka penuh—"Assalamualaikum"—dan langsung duduk di kursi yang posisinya paling strategis untuk memimpin pembicaraan, meskipun belum ada yang mau bicara.

Mbak Wulan datang dua hari kemudian. Suaminya—Mas Hendra, yang tidak pernah benar-benar akrab dengan siapapun di keluarga ini—mengantar sampai di depan pagar lalu langsung pergi. Mbak Wulan turun dari mobil dengan koper kecil dan berdiri sebentar di depan pagar, memandang rumah, dengan ekspresi yang Gilang tidak bisa baca dari kejauhan.

Mbak Fitri tiba Sabtu pagi, naik bus dari kota kabupaten. Masuk ke rumah tanpa banyak cakap, menaruh tasnya di kamar, dan langsung mengeluarkan buku kecilnya.

Mas Bagas tidak datang. Ia mengirim pesan panjang yang menjelaskan bahwa ia sedang dalam penugasan dan tidak bisa meninggalkan pos. Pesan itu diakhiri dengan: "Kalian urus yang terbaik untuk Ibu. Aku support dari sini."

Malam itu, untuk pertama kali dalam entah berapa tahun, enam dari tujuh bersaudara Sastro berkumpul di ruang tengah rumah joglo.

Ada tujuh kursi di ruang tengah itu—kursi kayu yang Bapak beli satu per satu dari sisa-sisa panen yang baik, selama bertahun-tahun, sampai akhirnya genap tujuh. Bapak bilang satu untuk setiap anak. Ibu bilang itu cerita yang terlalu indah untuk dipercaya—kemungkinan besar tujuh memang harga yang cocok, bukan karena symbolisme—tapi cerita Bapak yang lebih banyak diingat.

Malam itu, enam kursi terisi. Satu kosong—kursi di dekat jendela yang paling sering diduduki Mas Bagas waktu masih tinggal di rumah. Dan ada satu lagi yang tidak terisi: kursi kecil di sudut dekat pintu dapur, kursi yang tidak pernah resmi dinamai kursi siapapun tapi yang selalu menjadi tempat Ibu duduk saat ikut nimbrung obrolan keluarga.

Tidak ada yang menyentuh kursi itu malam ini.

Gilang duduk di tempat biasanya—baris paling belakang, dekat rak buku, di mana ia bisa melihat semua saudaranya dari satu titik pandang. Ia mengamati.

Mas Hafidz yang pertama bicara, tentu saja. Ia mengucapkan innalillahi wa innailaihi rajiun, kemudian bicara tentang ikhitiar dan takdir, tentang bahwa sakit adalah ujian, tentang pentingnya berpikir positif dan berserah. Semua yang ia katakan benar secara substansi—tidak ada yang salah. Tapi ada cara tertentu Mas Hafidz menyampaikannya yang membuat orang lain merasa tidak ada ruang untuk merespons selain mengangguk.

Lihat selengkapnya