Rumah Tujuh Cahaya

muhaibra
Chapter #6

Siapa yang Menanggung

Mbak Ratih menghitung uang di dapur.

Gilang menemukannya saat ia bangun tengah malam untuk minum air—jam menunjukkan pukul dua belas lebih empat puluh, dan semua orang sudah seharusnya tidur. Tapi cahaya dapur masih menyala, dan saat Gilang masuk, ia mendapati Mbak Ratih duduk di bangku panjang dekat kompor dengan selembar kertas dan beberapa lembar uang di depannya.

Mbak Ratih tidak kaget. Ia hanya mendongak, memandang Gilang sebentar, lalu kembali ke kertasnya.

"Tidak bisa tidur?" tanya Gilang.

"Mau tidur, tapi kepikiran dulu ini."

Gilang menuang air ke gelas, lalu duduk di seberang Mbak Ratih. Ia tidak langsung bertanya—membiarkan Mbak Ratih yang menentukan mau bicara atau tidak.

Mbak Ratih menghitung ulang uang itu. Bibirnya bergerak pelan mengikuti angka.

"Berapa yang sudah kita kumpulkan?" tanya Gilang akhirnya.

"Dari tabunganku dan Mas Danu, sekitar empat juta lebih. Mas Hafidz tadi bilang bisa bantu dua juta tapi bulan depan." Mbak Ratih meletakkan pensilnya. "Kemo pertama katanya bisa tiga sampai lima juta. Belum obat-obatan, belum biaya RS."

Gilang mengangguk. Ia sudah tahu angka itu kira-kira—ia sudah searching tadi malam dari HP, sambil berbaring di kamar, mencoba mempersiapkan diri.

"Aku masih punya simpanan," kata Gilang. "Sekitar enam juta. Bisa dipakai untuk sementara."

"Kamu pake untuk apa kalau habis?"

Lihat selengkapnya