Kamar 204 di bangsal penyakit dalam RSUD itu berisi dua tempat tidur—Ibu di dekat jendela, seorang ibu tua lain di sebelahnya yang sepertinya sedang tidur dengan napas yang teratur dan berat.
Gilang masuk pagi itu sendirian. Mas Danu bilang akan menyusul nanti setelah mengurus sesuatu di rumah, dan saudara-saudara yang lain masih ada kesibukan masing-masing. Momen ini—momen pertama Gilang melihat ibunya setelah enam bulan—ia jalani sendiri.
Ibu sedang memandang ke luar jendela saat Gilang masuk. Jendela kamarnya menghadap ke taman kecil di belakang RS—beberapa pohon kecil, bangku besi yang sudah berkarat, dan seorang bapak tua yang duduk di sana dengan infus di tangannya sedang menjemur diri di pagi hari.
Gilang berdiri di ambang pintu selama dua atau tiga detik sebelum masuk sepenuhnya.
Ibu terlihat lebih kurus.
Itulah yang pertama Gilang perhatikan—bukan selang di tangan, bukan baju RS yang kebesaran, bukan warna kulit yang sedikit lebih pucat. Tapi bahwa pipi Ibu yang biasanya sedikit chubby—pipi yang Gilang ingat sejak kecil, yang membuat senyum Ibu terlihat selalu muda—kini lebih tirus. Tulang pipinya lebih terlihat.
Tapi matanya.
Matanya sama. Hangat dan tajam sekaligus, dengan cara yang selalu membuat Gilang merasa dilihat sepenuhnya—bukan dinilai, bukan dihakimi, tapi dilihat. Saat Ibu menoleh dan melihat Gilang di pintu, matanya langsung berbinar.
"Gilang."
Gilang tersenyum—atau mencoba tersenyum, tapi bibirnya bergetar sedikit. Ia masuk ke kamar, mendekati tempat tidur, dan duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Ibu.
"Ibu," katanya. Cuma itu. Cukup untuk saat ini.