Rumah Tujuh Cahaya

muhaibra
Chapter #8

Mas Hafidz Memutuskan

Rapat keluarga tidak pernah diumumkan sebagai rapat keluarga di keluarga Sastro. Ia terjadi begitu saja—seseorang mulai bicara tentang sesuatu yang penting, orang-orang lain yang kebetulan ada di ruangan berhenti dengan aktivitas masing-masing dan mendengarkan, dan sebelum ada yang menyadarinya, sudah ada diskusi di mana setiap kata terasa seperti taruhan.

Malam ketiga setelah semua berkumpul, itu terjadi.

Mas Hafidz duduk di kursinya yang biasa—posisi yang secara tidak langsung menegaskan ia yang memimpin—dan mulai bicara setelah Isya. Istrinya sudah membawa anak-anak tidur. Hanya saudara-saudara yang ada di ruang tengah.

"Aku sudah konsultasi dengan ustadz di pesantren," kata Mas Hafidz. "Soal kemoterapi."

Gilang merasa sesuatu mengeras di ulu hatinya. Ia tidak tahu ke mana ini akan pergi, tapi instingnya bilang bahwa arahnya mungkin tidak nyaman.

"Kemo itu prosesnya berat. Ibu sudah tidak muda, dan tubuhnya harus menanggung efek samping yang tidak ringan. Ada baiknya kita mempertimbangkan alternatif lain—pengobatan dengan herbal, terapi yang lebih alamiah, dan yang paling penting, berserah kepada Allah."

Hening sebentar.

Mbak Ratih yang pertama bereaksi—ia mengangkat kepalanya dan memandang Mas Hafidz dengan cara yang Gilang kenal: mau berkata sesuatu tapi sedang menimbang apakah waktunya tepat.

Mas Danu tidak bergerak.

Mbak Wulan mengangguk—anggukan yang terlihat lebih seperti refleks daripada persetujuan.

Mbak Fitri mencatat.

"Mas Hafidz," kata Gilang. Suaranya lebih pelan dari yang ia rencanakan. "Dokter bilang stadium tiga masih bisa ditangani dengan kemoterapi. Itu bukan pilihan alternatif—itu protokol medis yang memang untuk kondisi Ibu."

"Aku tidak bilang tidak mau ke dokter," jawab Mas Hafidz, dengan nada yang terukur—nada seorang guru yang sudah biasa menjelaskan hal yang ia anggap mudah kepada orang yang belum mengerti. "Tapi kita juga harus mempertimbangkan kualitas hidup Ibu selama proses. Kemo itu menyiksa. Ibu bisa mual, rambutnya rontok, tubuhnya lemah—"

Lihat selengkapnya