Notifikasi itu datang pukul sembilan pagi, saat Gilang sedang duduk di beranda dengan segelas kopi yang sudah hangat-hangat kuku.
TRANSFER MASUK: Rp 15.000.000 dari BAGAS SATRIO WIBOWO.
Lima belas juta.
Gilang membaca notifikasi itu dua kali. Kemudian memeriksa saldo rekening Ibu—karena transfernya ke rekening Ibu, bukan ke siapapun lainnya. Di bawah nominal itu, ada catatan: Untuk pengobatan Ibu. Pakai yang perlu.
Tidak ada lebih dari itu. Tidak ada penjelasan. Tidak ada permintaan maaf karena tidak bisa hadir. Tidak ada basa-basi.
Tapi juga tidak ada yang minta.
Gilang meletakkan HP di atas meja beranda dan memandang halaman. Pohon mangga sedang diterpa angin pagi yang ringan. Beberapa daun berguguran—bukan karena musim, hanya karena angin. Kucing belang milik tetangga melintas di pagar.
Gilang meraih HPnya lagi dan membuka WhatsApp. Mencari nama Mas Bagas.
Foto profilnya adalah foto dalam seragam militer—bukan foto resmi, tapi foto candid yang tampaknya diambil saat sedang di lapangan, latar belakangnya hutan atau sesuatu yang hijau. Wajah Mas Bagas terlihat muda dalam foto itu, sedikit tersenyum, squinting karena matahari.
Gilang mengetik: "Terima kasih, Mas. Ini sangat membantu."
Lalu menghapusnya.
Mengetik lagi: "Transfer sudah diterima. Ibu akan senang tahu."
Menghapus lagi.
Akhirnya ia hanya mengetik: "Makasih, Mas Bagas." Dan mengirimnya sebelum ia berpikir terlalu lama.