Malam sebelum Gilang harus kembali ke Semarang, ia tidak bisa tidur.
Ini bukan hal yang aneh—Gilang memang tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak di malam sebelum kembali ke kota setelah pulang kampung. Ada semacam ambiguitas yang tidak nyaman antara "di sini" dan "di sana", antara dua kehidupan yang berjalan paralel dan harus dijalani bergantian.
Ia bangkit, mengambil segelas air, dan berjalan pelan ke ruang tengah dalam gelap. Ia tidak menyalakan lampu—sudah terlalu terbiasa dengan denah rumah ini untuk butuh cahaya.
Saat ia melewati kamar Mbak Fitri, ia melihat cahaya tipis dari bawah pintu. Masih ada yang terjaga.
Gilang berdiri di depan pintu sebentar. Lalu mengetuk pelan.
"Mbak Fitri?"
"Masuk."
Mbak Fitri duduk di tepi tempat tidur dengan buku kecilnya di pangkuan dan pena di tangan. Lampu meja kecil yang redup menerangi hanya separuh wajahnya. Ia terlihat tidak terkejut—seolah sudah tahu Gilang akan datang.
"Tidak bisa tidur?" tanya Mbak Fitri.
"Biasa. Malam sebelum balik."
Gilang masuk dan duduk di kursi kecil di pojok kamar—kursi yang dulu Ibu pakai untuk duduk menjahit saat anak-anak masih kecil. Ia memandang buku di pangkuan Mbak Fitri.
"Apa yang selalu Mbak tulis di situ?"
Mbak Fitri menutup bukunya—bukan dengan cara defensif, tapi dengan cara seseorang yang menutup sesuatu bukan karena ingin menyembunyikan, tapi karena sedang mempertimbangkan seberapa banyak yang mau dibagi.
"Hal-hal yang aku amati," kata Mbak Fitri. "Orang-orang. Momen. Kata-kata yang menarik."
"Keluarga kita?"