Rumah Tujuh Cahaya

muhaibra
Chapter #11

Sembilan Bulan

Waktu bergerak dengan caranya sendiri saat seseorang yang kamu cintai sedang sakit.

Ada hari-hari yang terasa seperti berdiri di dalam air—setiap langkah berat, setiap gerakan lambat, dan kamu tidak yakin apakah kamu maju atau hanya berpura-pura maju. Ada juga hari-hari yang sebaliknya: terlalu cepat, melintas sebelum sempat kamu genggam, dan tiba-tiba sudah sebulan lagi berlalu tanpa kamu sadar ke mana perginya.

Sembilan bulan kemoterapi Ibu adalah campuran dari keduanya.

Gilang pulang setiap dua minggu. Kadang hanya dua hari—Jumat malam, Minggu sore sudah kembali ke Semarang. Kadang bisa empat hari kalau ada libur nasional atau ujian semester memberi jeda yang cukup. Ia tidak pernah merasa cukup lama di sana, dan tidak pernah merasa cukup mudah untuk pergi.

Sesi kemoterapi pertama adalah yang paling berat untuk disaksikan.

Ibu duduk di kursi kemo dengan selang di tangannya dan cairan bening yang menetes pelan-pelan masuk ke tubuhnya. Ruang kemoterapi itu penuh dengan orang lain—bapak-bapak tua, ibu-ibu paruh baya, bahkan satu orang muda yang mungkin umurnya tidak jauh dari Gilang—semua dengan tatapan yang bervariasi antara sabar, lelah, dan entah apa lagi. Gilang duduk di sebelah Ibu selama empat jam pertama itu. Membacakan koran. Bercerita tentang murid-muridnya. Sesekali hanya diam.

Ibu berkata sesuatu yang tidak Gilang lupakan selama sembilan bulan itu:

"Kamu tidak perlu duduk di sini terus, Dik. Kamu bisa jalan-jalan dulu, beli makan."

"Aku tidak lapar, Bu."

"Kamu lapar. Aku bisa dengar perutmu dari sini."

Bahkan dalam keadaan seperti itu, Ibu masih lebih sibuk mengurusi apakah anak-anaknya sudah makan.

* * *

Lihat selengkapnya