Kabar itu datang pada Kamis malam, tiga minggu setelah dokter bilang kondisi Ibu stabil.
Mas Danu menelepon Gilang pukul delapan lewat lima belas. Suaranya berbeda dari biasanya—bukan panik, bukan menangis, tapi ada sesuatu di dalamnya yang Gilang langsung kenali sebagai tanda bahwa sesuatu sudah bergeser. Sesuatu yang tidak bisa dikembalikan ke tempat semula.
"Gil. Kondisi Ibu turun drastis tadi sore. Dokter minta keluarga kumpul."
Gilang tidak bertanya berapa lama. Tidak bertanya kenapa bisa tiba-tiba. Tidak bertanya apakah masih ada harapan. Ia hanya berkata: "Aku berangkat malam ini."
Dan ia berangkat malam itu.
* * *
Ruang ICU berbeda dari bangsal biasa. Lampunya lebih terang tapi suasananya lebih berat—ada sesuatu tentang cahaya neon yang tidak pernah padam dan mesin-mesin yang berbunyi dengan ritme tertentu yang membuat waktu terasa berbeda di sana. Seperti waktu tidak benar-benar berjalan—ia hanya berputar di satu titik, menunggu.
Mereka semua datang.
Mas Hafidz tiba dari kecamatan dengan mobilnya, bersama istri dan anaknya yang baru saja ditelepon dari tidur. Mbak Ratih datang dari arah pasar—mungkin belum sempat pulang. Mbak Wulan datang dari bandara, penerbangan terakhir dari Balikpapan, matanya sembab tapi langkahnya cepat. Mbak Fitri sudah ada—ternyata ia sudah di sini sejak kemarin, diam-diam, tanpa bilang ke siapapun.
Dan Mas Bagas datang.
Pertama kali setelah lebih dari satu tahun.
Gilang melihatnya dari ujung koridor—siluet yang tegap dengan tas kecil di tangan dan seragam yang sepertinya baru saja ia ganti tapi masih terlihat terburu-buru. Saat Mas Bagas mendekat dan masuk ke lingkaran cahaya lampu koridor, Gilang bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ada sesuatu di sana yang tidak pernah Gilang lihat sebelumnya—bukan kepanikan, bukan kesedihan, tapi sesuatu yang lebih dalam dari keduanya. Sesuatu yang mungkin akan disebut orang lain sebagai ketakutan.
Mas Bagas berjabat tangan dengan Mas Hafidz. Memeluk Mbak Ratih yang langsung menangis saat melihatnya. Mengangguk kepada Mas Danu. Memandang Mbak Wulan dan Mbak Fitri bergantian. Dan kemudian matanya bertemu dengan mata Gilang.