Rumah Tujuh Cahaya

muhaibra
Chapter #13

Subuh yang Berbeda

Pukul empat lewat tujuh belas menit.

Gilang tahu waktunya karena ia memandang jam dinding di koridor saat alarm kecil di ruang ICU berbunyi—bukan alarm keras seperti di film, tapi bunyi yang lebih pelan, lebih steril, yang segera direspons oleh dua perawat yang tergesa masuk ke dalam.

Mereka semua sudah ada di koridor. Sudah tidak ada yang tidur sejak tadi malam. Mas Danu berdiri dengan punggung ke dinding, mata terpejam tapi Gilang tahu ia tidak tidur. Mbak Ratih duduk di kursi dengan kepala menunduk. Mas Hafidz berdiri menghadap kiblat, bibirnya bergerak dalam doa. Mbak Wulan memeluk Mbak Fitri. Mas Bagas berdiri sendiri di ujung koridor, memandang ke lantai.

Perawat keluar dari ruangan ICU. Dokter jaga mengikuti di belakangnya. Wajah dokter itu sudah memberikan jawabannya sebelum ia membuka mulut.

Pukul 04.17, Ibu Sari binti Karso meninggal dunia.

* * *

Tidak ada drama.

Itulah yang akan selalu Gilang ingat tentang momen itu—tidak ada yang terjatuh, tidak ada yang berteriak, tidak ada kepanikan yang meledak seperti dalam sinetron.

Yang ada hanyalah keheningan yang menghantam seperti gelombang.

Mas Hafidz langsung menundukkan kepala dan mulai membaca Al-Quran dengan suara pelan. Tangannya yang biasanya gestur saat bicara kini terlipu rapi di depan dadanya.

Mbak Ratih berjalan masuk ke ruangan ICU tanpa izin siapapun, melewati perawat yang mencoba memberi tahu bahwa prosedurnya harus lewat dokter dulu—dan perawat itu melihat wajahnya dan diam.

Mbak Wulan duduk di kursi koridor dan tidak bergerak. Tangannya di pangkuannya. Matanya terbuka tapi tidak melihat apa-apa yang ada di depannya.

Lihat selengkapnya