Rumah Tujuh Cahaya

muhaibra
Chapter #14

Tiga Hari

Jenazah Ibu dibawa pulang ke rumah joglo pagi harinya.

Ada sesuatu yang aneh tentang melihat rumah yang sudah kamu kenal seumur hidupmu tiba-tiba dipenuhi oleh orang-orang yang tidak kamu kenal—tetangga-tetangga yang datang membawa makanan dan kondolens, orang-orang dari masjid yang Gilang kenal wajahnya tapi tidak tahu namanya, beberapa muka yang tidak dikenal sama sekali yang mungkin adalah kenalan jauh atau saudara dari cabang keluarga yang tidak sering bertemu.

Rumah joglo yang biasanya terasa luas tiba-tiba terasa sempit dalam cara yang hangat—orang-orang yang duduk di mana saja bisa duduk, makanan yang datang silih berganti ke dapur, suara doa yang tidak pernah benar-benar berhenti selama tiga hari itu.

Gilang bergerak di antara semua itu seperti dalam mimpi yang terlalu nyata.

Ia menerima tangan-tangan yang berjabat, mengangguk pada kata-kata kondolens yang diucapkan dengan tulus meski sering terdengar sama, memastikan tamu-tamu mendapat tempat duduk dan minum dan makanan. Ia melakukan semua ini dengan gerakan yang sudah seperti autopilot—bukan karena tidak merasa, tapi karena di dalam keluarga besar ada peran yang harus diisi dan gilang mengisi peran itu.

Yang menarik perhatiannya adalah bagaimana saudara-saudaranya masing-masing mengisi peran berbeda tanpa pernah membicarakannya.

Mas Bagas yang mengurus semua logistik pemakaman dengan efisiensi yang mungkin ia pelajari dari dinas militer—menelepon pihak masjid, mengkoordinasi kendaraan, memastikan urutan prosesi pemakaman berjalan tanpa hambatan. Ia bergerak dengan cepat dan pasti, selalu tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya, dan tidak ada yang memintanya untuk mengambil peran itu.

Mbak Ratih yang memasak—hampir sendirian, hampir tanpa henti. Dapur tidak pernah sepi selama tiga hari itu karena Mbak Ratih selalu ada di sana, menyiapkan makanan untuk tamu yang tidak pernah habis datang. Ia berkeringat dan tangannya berbau bawang dan ia tidak mengeluh satu katapun.

Mas Hafidz yang memimpin semua ritual—dari sholat jenazah sampai tahlilan, dari doa di setiap sesi sampai memberi sambutan saat ada pelayat yang datang dari jauh. Suaranya yang biasanya terdengar seperti sedang berceramah hari itu terdengar berbeda—lebih pelan, lebih berat, tapi tetap kokoh.

Mas Danu yang paling banyak duduk di dekat jenazah Ibu, sebelum dimakamkan. Ia tidak banyak bicara. Tapi ia tidak pernah jauh.

Lihat selengkapnya