Rumah Tujuh Cahaya

muhaibra
Chapter #15

Pertanyaan Warisan

Hari keempat setelah Ibu meninggal, Mas Hafidz mengangkat topik itu.

Bukan dengan cara yang kasar. Bukan juga dengan cara yang terasa tidak sopan—setidaknya bukan bagi Mas Hafidz sendiri, yang mungkin merasa bahwa ini adalah hal praktis yang perlu dibicarakan, dan lebih baik dibicarakan sekarang saat semua orang masih berkumpul daripada berlarut-larut.

Mereka baru selesai makan siang bersama. Mas Bagas sudah pamit tadi pagi—ada tugas yang tidak bisa ditunda lebih lama. Jadi yang ada di ruang tengah adalah lima bersaudara: Mas Hafidz, Mbak Ratih, Mas Danu, Mbak Fitri, dan Gilang. Mbak Wulan ada di kamar, packing untuk besok.

"Ada hal yang perlu kita bicarakan sebelum semua berpencar," kata Mas Hafidz.

Nada itu—"ada hal yang perlu kita bicarakan"—sudah cukup membuat Gilang merasa sesuatu mengeras di perutnya.

"Soal rumah dan tanah ini."

Hening.

Bukan hening yang nyaman—hening yang terjadi saat semua orang tahu apa yang akan dibicarakan tapi tidak ada yang siap untuk memulainya.

"Hukum waris Islam sudah jelas," lanjut Mas Hafidz. "Setelah Ibu, hak waris jatuh ke Bapak dan anak-anaknya. Tapi Bapak kondisinya sudah tidak stabil—kita semua tahu itu. Lebih baik kita urus sekarang, saat kepala masih jernih, daripada nanti lebih rumit."

"Jernih bagaimana maksudnya, Mas?" tanya Mbak Ratih. Suaranya datar—jenis datar yang biasanya mendahului sesuatu yang lebih tajam.

"Maksudku, kita perlu memutuskan soal aset. Rumah ini, tanah di belakang. Mau diapakan."

"Ibu baru empat hari."

"Aku tahu, Ratih. Ini bukan—"

"Baru empat hari, Mas Hafidz."

Lihat selengkapnya