Gilang menemukan buku itu secara tidak sengaja.
Seminggu setelah semua saudara kembali ke tempat masing-masing, Gilang memutuskan untuk tinggal beberapa hari lagi sebelum kembali ke Semarang. Sebagian karena ia belum siap—belum siap untuk kembali ke rutinitas, ke kelas, ke kehidupan yang terasa seperti milik orang yang berbeda dari orang yang sekarang duduk di rumah joglo yang sepi ini. Sebagian lagi karena ia ingin memastikan Bapak dan Mas Danu tidak ditinggal terlalu cepat.
Pagi itu Mas Danu pergi ke sawah. Bapak sedang istirahat di kamarnya. Dan Gilang memutuskan untuk membereskan kamar Mas Danu—bukan karena Mas Danu minta, tapi karena ia butuh melakukan sesuatu dengan tangannya selain duduk dan berpikir.
Kamar Mas Danu selalu rapi. Ini sudah menjadi observasi Gilang sejak lama—dari semua saudara, Mas Danu yang paling rapi secara fisik meskipun hidupnya secara lain-lain mungkin paling tidak terencana. Tempat tidur terlipat rapi. Baju tergantung dengan urutan tertentu. Buku-buku di rak tersusun dengan cara yang tidak acak.
Gilang mengepel lantai. Mengelap meja. Menata ulang rak buku yang sudah berdebu. Dan saat ia menggeser kasur untuk menyapu di bawahnya, sesuatu terjatuh dari celah antara kasur dan dinding.
Sebuah buku. Sampulnya polos, warna coklat tua, sudah agak lusuh di sudut-sudutnya. Tidak ada tulisan di luar.
Gilang mengambilnya. Ia tahu ia seharusnya tidak membukanya. Setiap orang punya hak atas privasinya, dan buku tanpa label di kamar seseorang hampir pasti adalah buku yang pemiliknya tidak berniat untuk dibaca orang lain.
Ia tahu itu.
Dan kemudian ia membukanya.
* * *
Tulisan tangan Mas Danu kecil dan rapi—tidak seperti yang Gilang bayangkan dari seseorang yang tangannya kasar karena pekerjaan fisik. Seolah ada dua versi Mas Danu: yang di luar, yang bekerja dengan tangan dan tidak banyak bicara; dan yang di dalam buku ini, yang menulis dengan teliti dan memilih kata-kata dengan hati-hati.