Rumah Tujuh Cahaya

muhaibra
Chapter #17

Mas Danu dan Gilang

Esok paginya Gilang bangun sebelum fajar.

Kebiasaan yang tidak biasa untuknya—di Semarang ia bangun pukul enam, sesekali pukul setengah tujuh kalau kelas pertamanya siang. Tapi malam itu ia tidak bisa tidur nyenyak, dan pukul empat lebih ia sudah berbaring dengan mata terbuka, mendengarkan suara desa yang mulai memuai dari dini hari—ayam yang berkokok jauh, angin yang menggerakkan daun pohon mangga, suara sungai kecil yang tidak pernah berhenti.

Ia bangkit. Mengenakan jaket tipis. Dan pergi ke beranda belakang.

Mas Danu sudah ada di sana.

Dengan kopi yang sudah separuh diminum dan tatapan ke arah sawah yang masih gelap di kejauhan. Ia menoleh saat Gilang keluar tapi tidak berkata apa-apa—hanya menggeser duduknya sedikit, memberi ruang.

Gilang duduk di sebelahnya.

Mereka diam bersama menunggu matahari naik. Ini bukan hal yang aneh—mereka sudah beberapa kali melakukannya selama bertahun-tahun, duduk bersama tanpa harus bicara. Tapi pagi ini ada sesuatu yang berbeda di bawah permukaan kebiasaan itu.

Gilang tahu sesuatu yang Mas Danu tidak tahu bahwa ia tahu.

"Mas Danu pernah tidak," kata Gilang akhirnya, memulai dengan cara yang ia harap terdengar biasa, "penasaran bagaimana hidupnya kalau dulu beda?"

Mas Danu tidak langsung menjawab. Ia meniup kopinya—padahal kopinya sudah pasti sudah dingin.

"Semua orang pernah," katanya akhirnya. "Itu bukan hal yang aneh."

"Kalau Mas Danu sendiri?"

Jeda yang lebih panjang. Di kejauhan, garis merah tipis mulai muncul di cakrawala.

Lihat selengkapnya