Mbak Wulan seharusnya pulang ke Kalimantan hari itu.
Mas Hendra sudah menelepon tiga kali sejak kemarin, mengingatkan tiket pesawat yang sudah dibeli, pekerjaan yang menunggu, anak-anak yang perlu dijemput dari rumah neneknya. Mbak Wulan setiap kali menjawab dengan suara yang pelan dan seragam: "Iya, sebentar lagi."
Tapi sampai malam tiba, Mbak Wulan masih di sana.
Gilang menemukan Mbak Fitri mengetuk pintu kamar Mbak Wulan pukul sepuluh malam. Ia tidak ikut masuk—hanya berdiri di koridor—tapi pintunya tidak ditutup rapat, dan dari posisinya Gilang bisa mendengar.
Suara yang keluar dari kamar itu bukan tangisan keras. Lebih seperti orang yang sudah lelah menahan sesuatu terlalu lama dan akhirnya tubuhnya tidak kuat lagi.
Mbak Fitri berbicara dengan suara yang sangat pelan—Gilang tidak bisa mendengar kata-katanya, tapi nada suaranya terdengar seperti seseorang yang sedang memegang tangan orang lain di tepi jurang.
Gilang berdiri di koridor itu, tidak yakin apakah ia harus pergi atau menunggu.
Kemudian suara Mbak Fitri yang pelan itu memanggil: "Gil. Masuk sini."
* * *
Kamar itu kecil—kamar yang dulu Mbak Wulan dan Mbak Ratih berbagi sebelum mereka dewasa dan kehidupan membawa mereka ke tempat yang berbeda. Koper Mbak Wulan sudah terbuka di atas kasur, sebagian baju sudah dilipat dengan rapi, sebagian lagi belum.
Mbak Wulan duduk di tepi kasur. Matanya merah. Wajahnya menyimpan sesuatu yang Gilang tidak bisa nama-kan dengan tepat—bukan sekadar sedih karena kehilangan Ibu, tapi sesuatu yang lebih lama dari itu. Sesuatu yang sudah ada jauh sebelum Ibu sakit.
Mbak Fitri duduk di sebelahnya. Saat Gilang masuk, Mbak Fitri memandangnya dengan cara yang Gilang artikan sebagai: "Kamu perlu ada di sini."
Gilang duduk di kursi kecil di pojok kamar—kursi jahit Ibu yang sama yang ada di semua kamar ini.
Tidak ada yang bicara selama beberapa saat.
"Aku tidak mau pulang," kata Mbak Wulan akhirnya.