Ada satu hal tentang tiga hari itu yang terus mengganggu pikiran Gilang.
Mas Bagas tidak menangis.
Selama tiga hari tahlilan—saat pelayat datang dan pergi, saat doa dipanjatkan, saat jenazah Ibu dimandikan dan dikafani dan dibawa ke makam—Mas Bagas tidak menangis. Tidak sekali. Wajahnya tetap dalam ekspresi yang sama: tenang, sedikit tegang di sekitar rahang, matanya bergerak mengamati situasi seperti seseorang yang sedang memastikan semua prosesi berjalan dengan benar.
Mbak Ratih menangis sampai suaranya habis. Mbak Wulan menangis dengan cara yang pelan dan tidak berhenti. Bahkan Mas Hafidz—yang Gilang tidak pernah melihatnya menangis sejak mereka kecil—terlihat matanya basah saat sholat jenazah. Mas Danu tidak menangis di depan orang, tapi Gilang yakin ia menangis sendiri.
Tapi Mas Bagas.
Gilang tidak menghakimi. Ia hanya penasaran.
* * *
Malam sebelum Mas Bagas kembali ke posnya, mereka ada di beranda depan berdua. Semua orang lain sudah di dalam—Mas Danu sedang menemani Bapak, Mbak Ratih sudah tidur kelelahan, Mbak Fitri menulis, Mbak Wulan yang akhirnya memutuskan untuk tinggal beberapa hari lagi sedang di kamarnya.
Mas Bagas duduk dengan rokok di tangan—kebiasaan yang ia sembunyikan dari Ibu selama bertahun-tahun, yang semua orang tahu tapi pura-pura tidak tahu. Asap mengepul ke udara malam yang tenang.
Gilang duduk di sebelahnya.
"Besok pagi berangkat?" tanya Gilang.
"Subuh."
Hening sebentar.
"Mas Bagas baik-baik saja?"