Gilang membereskan kamar Ibu pada hari terakhir ia tinggal di Sokowati.
Ini bukan sesuatu yang diminta siapapun. Mbak Ratih sudah pulang dua hari lalu. Mas Hafidz sudah pulang sejak hari kelima. Mas Bagas sudah pergi sejak subuh. Mbak Wulan masih di sini tapi sedang di dapur bersama Mas Danu. Mbak Fitri—yang tinggal paling lama—baru pamit kemarin.
Gilang memilih momen ini, saat rumah relatif sepi dan hanya tinggal ia, Mas Danu, Mbak Wulan, dan Bapak yang sedang istirahat.
Kamar Ibu tidak pernah dikunci. Gilang masuk pelan seperti kalau Ibu masih ada di dalam dan ia tidak mau membangunkannya. Kebiasaan yang tidak punya logika lagi, tapi tetap terasa perlu.
Ia mulai dari hal-hal sederhana—melipat baju-baju Ibu yang ada di kursi, menata botol obat yang masih berjajar di meja kecil, memindahkan kacamata baca yang masih ada di atas buku doa Ibu ke tempat yang lebih aman.
Di bawah tempat tidur ada kotak kardus yang Gilang tahu sudah ada di sana selama bertahun-tahun—berisi benda-benda yang Ibu sebut "kenangan" dan yang tidak pernah benar-benar diperlukan tapi juga tidak pernah mau dibuang. Gilang menarik kotak itu keluar.
Di dalamnya: foto-foto lama. Beberapa surat dari masa ketika orang masih berkirim surat. Buku tabungan lama yang sudah tidak aktif. Sebuah tasbih kayu yang sudah ausnya seperti sudah dipakai ribuan kali. Sehelai kain batik yang masih terlipat rapi dan bau lemarinya tidak berubah meskipun mungkin sudah disimpan bertahun-tahun.
Gilang mengeluarkan isi kotak itu satu per satu, memeriksa sebentar, meletakkan di lantai.
Dan di paling bawah, tersembunyi di bawah lipatan kain batik, ada sebuah amplop.
Amplop biasa, ukuran sedang. Tidak ada perangko—belum pernah dikirim. Di bagian depan, dengan tulisan tangan Ibu yang rapi dan sedikit miring:
Untuk Pak Sastro, bila sudah waktunya.
Gilang menatap amplop itu lama.