Setahun berlalu dengan cara yang tidak pernah terasa seperti setahun.
Ada yang bilang waktu menyembuhkan segalanya. Gilang tidak yakin itu benar sepenuhnya. Yang ia rasakan lebih seperti ini: waktu tidak menyembuhkan, tapi ia mengubah bentuk luka itu—dari yang awalnya tajam dan menusuk setiap saat, menjadi sesuatu yang lebih tumpul, yang lebih mudah dibawa, yang tidak selalu sakit kecuali kamu menekannya di tempat yang tepat.
Kehilangan Ibu menjadi semacam ruang kosong yang selalu ada—di sudut-sudut tertentu dalam hari, dalam momen-momen tertentu yang dulunya selalu ada Ibu di dalamnya. Saat Gilang masak opor dan tidak ingat persis takarannya. Saat ia ingin cerita tentang murid yang lucu dan menyadari sudah tiga detik sebelum jarinya berhenti di atas layar HP, mencari nama Ibu di daftar kontak. Saat lebaran tiba dan ada kursi kosong yang tidak bisa diisi oleh siapapun.
Tapi kehidupan masing-masing terus bergerak. Itu yang tidak bisa ditunda.
* * *
Gilang naik jabatan. Bukan naik pangkat yang dramatis—hanya dipercaya menjadi wali kelas untuk kelas dua belas, kelas yang paling penting karena ujian nasional dan masa depan murid-murid yang bergantung pada satu tahun terakhir itu. Kepala sekolah memintanya langsung, dan Gilang menerima dengan cara yang ia sendiri tidak sepenuhnya mengerti: tanpa pikir terlalu panjang, dengan satu anggukan.
Mungkin karena setahun terakhir mengajarinya sesuatu tentang tidak menunda hal-hal yang perlu dilakukan.