Telepon dari Mas Hafidz datang pada Selasa malam, pukul delapan lebih dua puluh, saat Gilang sedang mengoreksi tumpukan esai kelas dua belas tentang novel Laskar Pelangi.
Gilang menerima telepon itu dengan HP dijepit antara bahu dan telinga sementara tangannya masih memegang pulpen merah.
"Gil, aku mau bicara soal rumah."
Gilang meletakkan pulpen. "Rumah yang mana, Mas?"
"Rumah Sokowati. Sudah setahun lebih kita tidak memutuskan apa-apa. Ini tidak bisa terus dibiarkan."
Gilang mengambil posisi lebih nyaman di kursinya. Ia sudah menduga percakapan ini akan datang—hanya tidak tahu kapan tepatnya.
"Apa yang Mas Hafidz mau putuskan?"
"Yang paling logis tetap sama: dijual, dibagi sesuai hak waris. Bapak kondisinya tidak stabil, kita tidak tahu berapa lama lagi. Lebih baik urus sekarang saat Bapak masih bisa tanda tangan dokumen."
Kalimat terakhir itu membuat sesuatu di dada Gilang mengencang. Tapi ia tahan respons pertamanya.
"Mas sudah bicara dengan Mas Danu?"
"Belum. Tapi Danu pasti setuju. Dia tidak punya alasan untuk mempertahankan rumah itu."
Gilang diam sebentar. Di luar jendela apartemennya, suara kota malam—motor yang lewat, suara TV dari unit sebelah, hujan gerimis yang mulai turun.