Rumah Tujuh Cahaya

muhaibra
Chapter #23

Pertemuan di Pasar


Gilang datang ke lapak Mbak Ratih pada Sabtu pagi, sebelum pasar ramai.

Ini bukan kunjungan yang ia rencanakan jauh-jauh hari—ia kebetulan pulang ke Sokowati untuk akhir pekan, dan pagi itu ia bangun lebih awal dari biasanya, udara desa yang dingin tidak membiarkannya tidur kembali, dan ia memutuskan untuk jalan kaki ke pasar. Dua kilometer dari rumah, melewati jalan batu bata yang sudah ia hafal setiap lekukannya.

Pasar Sokowati pagi hari punya ritme tersendiri yang tidak berubah sejak Gilang kecil. Para pedagang datang sebelum matahari terbit, menata dagangan dengan gerakan yang sudah menjadi otot—tidak perlu dipikirkan, hanya dilakukan. Ada bau tertentu yang hanya ada di pasar pagi hari: campuran tanah basah, ikan segar, aroma rempah, dan asap dari warung kopi di sudut yang sudah menyalakan kompor sejak sebelum jam lima.

Lapak Mbak Ratih ada di baris ketiga dari pintu masuk utama—posisi yang dulu adalah lapak Ibu, yang kemudian jadi lapak bersama Ibu dan Mbak Ratih, yang sekarang menjadi lapak Mbak Ratih sepenuhnya ditambah satu lapak tambahan di sebelahnya untuk bumbu kemasan.

Mbak Ratih sedang menata ikan saat Gilang datang. Tangannya bergerak cepat—menyusun ikan bandeng di atas es batu, memindahkan ikan kembung ke posisi yang lebih strategis, mengelap talenan dengan kain lap yang tampaknya sudah dipakai ribuan kali tapi masih berfungsi.

Ia tidak langsung melihat Gilang.

"Mbak."

Mbak Ratih menoleh. Ekspresinya tidak terkejut—lebih ke arah "oh, ada kamu" yang familer.

"Sudah bangun pagi-pagi. Ada angin apa?"

"Tidak bisa tidur. Jalan-jalan ke sini."

"Bantu sini kalau mau."

Lihat selengkapnya