Gilang pulang ke Sokowati pada akhir pekan yang tidak ada agenda khususnya.
Ini yang berbeda dari pulang-pulang sebelumnya yang hampir selalu punya alasan: tahlilan, ada yang sakit, rapat keluarga. Kali ini hanya karena ia ingin. Karena minggu sebelumnya ia bermimpi tentang pohon mangga di halaman belakang dan terbangun dengan perasaan yang tidak bisa ia nama-kan tapi yang mendorongnya untuk memesan tiket bus lebih awal dari biasanya.
Saat ia sampai, Mas Danu ada di halaman belakang. Bukan duduk—berdiri, dengan palu di satu tangan dan papan kayu di sisi lainnya. Ia sedang memperbaiki pagar belakang yang beberapa batangnya sudah lapuk dimakan usia.
"Mau dibantu?" tanya Gilang dari ambang pintu belakang.
Mas Danu menoleh. Tidak terkejut—seperti sudah mengantisipasi kedatangan Gilang meskipun Gilang tidak bilang sebelumnya.
"Kalau mau."
Gilang menggulung lengan bajunya. Mengambil palu cadangan yang ada di kotak peralatan di bawah beranda. Dan mereka bekerja.
Tidak ada instruksi panjang—Mas Danu cukup menunjukkan dengan gerakan, dan Gilang mengikuti. Mencabut paku yang sudah karatan. Mengganti papan yang sudah tidak bisa dipertahankan. Memaku yang baru dengan ketukan yang teratur. Pekerjaan tangan yang sederhana, yang butuh tenaga tapi tidak butuh pikiran yang terlalu rumit.
Dan mungkin justru itu yang membuat percakapan bisa mengalir.
"Mas Danu," kata Gilang di sela ketukan palu, "pernah tidak berpikir mau kemana setelah ini?"
Mas Danu tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan satu paku dulu—tok, tok, tok—sebelum berbalik ke Gilang.
"Setelah apa?"
"Setelah Bapak tidak perlu dijaga lagi. Setelah... semuanya lebih tenang."