Rumah Tujuh Cahaya

muhaibra
Chapter #25

Yang Retak di Bawah Permukaan


Ada dua jenis ketenangan. Yang pertama adalah ketenangan yang genuine—yang muncul ketika sesuatu benar-benar sudah diselesaikan, ketika luka sudah sembuh menjadi bekas yang tidak lagi sakit. Yang kedua adalah ketenangan yang permukaan—yang muncul ketika semua pihak sepakat untuk tidak mengungkit, untuk menjaga agar tidak ada yang tumpah.

Keluarga Sastro setahun setelah Ibu meninggal adalah jenis yang kedua.

Gilang menyadari ini pada suatu malam saat ia berbaring di kasur kamarnya di Semarang dan sedang menelusuri foto-foto di HPnya. Ia menemukan foto dari terakhir kali semua berkumpul—lebaran setahun lalu, foto yang diambil Mbak Fitri dengan timer, tujuh saudara berdiri di beranda rumah joglo dengan Bapak duduk di depan.

Di foto itu semua tersenyum.

Tapi Gilang melihat sesuatu yang tidak terlihat saat foto diambil: tangan Mas Danu yang terkepal di sisi tubuhnya. Mata Mbak Wulan yang senyumnya tidak sampai ke sana. Jarak beberapa sentimeter antara Mas Hafidz dan Mbak Ratih yang tidak disebabkan oleh posisi tapi oleh sesuatu yang lain. Dan Mas Bagas yang berdiri paling ujung—secara fisik bersama tapi ada yang terasa tidak sepenuhnya hadir.

Seperti foto keluarga pada umumnya: yang terlihat dan yang tidak terlihat adalah dua hal yang berbeda.

* * *

Dua minggu sebelum Bapak jatuh, Gilang pulang untuk kunjungan biasa.

Lihat selengkapnya