Mereka berkumpul lagi di koridor RS. Déjà vu yang berat.
Mas Hafidz tiba sore hari, langsung dari pesantrennya yang sedang ada kegiatan—ia minta tolong santri yang lebih senior untuk pegang dulu, dan berangkat tanpa berganti baju dari baju koko putih yang biasa ia pakai mengajar. Mbak Ratih datang dari pasar, sama seperti dulu, masih ada bau ikan tipis di tangannya meskipun sudah dicuci. Mbak Fitri datang dengan tas kecil yang sepertinya sudah siap dikemas dari tadi—seperti ia memang selalu menyiapkan tas kecil untuk kemungkinan seperti ini. Mbak Wulan datang dari kontrakan kecilnya di kota kabupaten—lebih dekat dari Kalimantan, lebih cepat sampai.
Mas Bagas mengirim pesan: sedang dalam penugasan, akan usahakan secepatnya.
Mereka berkumpul di koridor. Dokter sudah menjelaskan kondisi Bapak—stroke iskemik yang ditangani cukup cepat, ada kemungkinan pemulihan parsial dengan fisioterapi, tapi untuk jangka panjang Bapak akan butuh perawatan intensif.
Dan kemudian Mas Hafidz bicara.
Ia tidak mengumumkan dulu bahwa ia akan bicara. Tidak ada pembukaan resmi. Ia hanya mulai—dengan nada yang terukur dan cara berbicara yang sudah menjadi default-nya sejak kecil: langsung ke inti, seperti seseorang yang sudah tahu kesimpulannya sebelum memulai kalimat pertama.
"Untuk perawatan Bapak ke depannya," kata Mas Hafidz, "Danu yang paling memungkinkan untuk jaga. Sudah pengalaman, sudah tahu rutinitas Bapak—"
"Mas Hafidz."