Rumah Tujuh Cahaya

muhaibra
Chapter #28

Mbak Wulan Minta Tolong


Malam itu, setelah semua orang kembali ke rumah joglo dan Bapak dalam kondisi stabil di bawah pengawasan RS, Mbak Wulan mencari Gilang.

Ia menemukannya di dapur—Gilang sedang membuat teh untuk semua orang, tugas yang ia ambil alih sendiri karena butuh sesuatu yang dikerjakan dengan tangan.

"Gil," panggil Mbak Wulan dari ambang pintu dapur.

Gilang menoleh. Mbak Wulan berdiri dengan postur yang berbeda dari beberapa bulan lalu—sudah tidak ada ketegangan yang dulu selalu ia bawa di bahu dan cara ia memegang tangannya. Bercerai—atau setidaknya sedang dalam proses bercerai—ternyata membuatnya terlihat lebih ringan, bukan lebih berat, meskipun Gilang tahu proses itu tidak mudah.

"Masuk, Mbak. Mau teh?"

Mbak Wulan masuk dan duduk di bangku dapur—bangku yang sama di mana Gilang pernah duduk dengan Mbak Ratih tengah malam, menghitung uang.

"Aku mau bicara sesuatu."

"Apa?"

Mbak Wulan menarik napas. "Aku mau minta tolong. Ini yang pertama kalinya aku minta tolong secara langsung, jadi mungkin terdengar aneh."

Gilang mematikan kompor. Menaruh dua gelas teh di meja dan duduk di seberang Mbak Wulan.

Lihat selengkapnya