Malam sebelum rapat keluarga yang tidak ada yang menyebutnya rapat keluarga, Gilang mengikuti Mas Hafidz ke masjid.
Bukan karena diundang—Mas Hafidz tidak mengundang. Gilang hanya melihat abang sulungnya itu mengambil sarung dan peci setelah makan malam dan berjalan ke arah masjid desa tanpa berkata apa-apa kepada siapapun, dan ada sesuatu—insting, atau mungkin hanya keinginan—yang membuat Gilang mengikutinya.
Mas Hafidz tidak menoleh saat Gilang berjalan di sebelahnya. Tapi ia juga tidak mengatakan pergi.
Masjid desa Sokowati adalah bangunan kecil yang sudah ada sejak sebelum Gilang lahir—dindingnya dari bata merah yang sudah dicat putih berkali-kali, atapnya baru diganti tiga tahun lalu dengan sumbangan dari warga yang merantau, halamannya dari paving block yang masih bau semen baru meskipun sudah dipasang cukup lama. Di dalamnya selalu ada bau karpet sajadah yang sudah tua dan bau kapur barus dari lemari mukena.
Isya baru saja selesai. Beberapa jamaah masih ada, berbincang pelan di teras atau mengambil sandal mereka untuk pulang. Mas Hafidz memberi salam kepada beberapa orang yang dikenalnya—senyuman, anggukan, beberapa kata—dengan cara yang terlihat alami meskipun Gilang bisa merasakan bahwa malam ini Mas Hafidz sedang tidak sepenuhnya hadir.
Setelah jamaah terakhir pergi, mereka duduk di teras masjid. Mas Hafidz dengan sajadahnya yang masih terlipat di pangkuan. Gilang di sebelahnya, memandang jalan desa yang sudah gelap dengan hanya beberapa lampu rumah di kejauhan.
Cukup lama mereka diam.
Gilang tidak memulai. Ia belajar dari perjalanannya setahun ini bahwa ada percakapan yang perlu dimulai oleh orang tertentu—dan percakapan ini perlu dimulai oleh Mas Hafidz.
Akhirnya, Mas Hafidz bicara.
"Aku salah soal Danu."