Rapat keluarga itu terjadi pada Senin pagi, tiga hari setelah Bapak masuk RS.
Tidak ada yang menyebutnya rapat keluarga. Mas Hafidz hanya bilang malam sebelumnya: "Besok pagi kita perlu bicara soal Bapak." Dan semua orang yang ada di rumah—Gilang, Mas Danu, Mbak Ratih yang sudah pulang lagi, Mbak Wulan, Mbak Fitri—tahu bahwa itu artinya semua harus duduk di ruang tengah setelah sarapan.
Kursi-kursi kayu yang sama. Ruang yang sama. Cahaya pagi yang masuk dari jendela yang sama.
Hanya suasananya yang berbeda.
* * *
Mas Hafidz membuka pembicaraan dengan cara yang Gilang tidak antisipasi—bukan dengan keputusan atau pernyataan, tapi dengan pertanyaan.
"Danu," kata Mas Hafidz, "aku mau bertanya langsung. Kamu mau tidak, merawat Bapak ke depannya?"
Ruangan hening.
Mas Danu duduk di kursinya—kursi yang paling dekat dengan pintu, posisi yang tidak berubah sejak dulu. Ia memandang Mas Hafidz. Ekspresinya tidak langsung terbaca.
Gilang menahan napas. Ini bukan cara yang ia bayangkan percakapan ini dimulai—tapi mungkin ini cara yang lebih baik dari yang ia khawatirkan tadi malam.
Mas Danu membuka mulutnya.
Lalu menutupnya.
Ia memandang ke meja. Lalu ke jendela. Lalu ke tangannya sendiri yang ada di pahanya.
Dan kemudian sesuatu yang sudah lama berada di bawah permukaan—sesuatu yang Gilang sudah bisa rasakan keberadaannya sejak malam ia membaca buku harian Mas Danu, yang sudah ia rasakan naik perlahan seperti air yang mendekati bibir gelas—akhirnya melampaui batasnya.
Mas Danu berdiri.