Rumah Tujuh Cahaya

muhaibra
Chapter #32

Surat yang Belum Dikirim


Gilang menjaga Bapak malam itu.

Shift bergantian sudah diatur dengan cara yang tidak formal tapi berfungsi—Mas Danu siang, Gilang malam, Mbak Wulan dan Mbak Ratih bergantian di antaranya. Mas Hafidz mengambil shift subuh sebelum ia harus kembali ke pesantren besok pagi. Mbak Fitri yang paling susah diam—ia tidak punya jadwal resmi tapi selalu ada di mana saja dibutuhkan.

Kamar RS malam itu sepi. Bapak tidur dengan napas yang teratur—mesin di sampingnya mencatat denyutan yang stabil, garis hijau yang naik turun dengan ritme yang sudah tidak membuat Gilang cemas seperti pertama kali melihatnya.

Gilang duduk di kursi di samping tempat tidur Bapak. Di tangannya ada buku yang dibawanya dari rumah—Pramoedya lagi, buku yang sama yang ia bawa saat pertama kali menerima kabar Ibu sakit, yang sudah ia baca sampai selesai tapi masih ia bawa ke mana-mana seperti jimat.

Ia membaca beberapa halaman. Lalu berhenti.

Matanya jatuh ke tas kecil yang ada di sudut kamar—tas Bapak yang Mas Danu bawakan dari rumah, berisi piyama ganti dan perlengkapan mandi dan beberapa hal kecil yang Bapak minta dengan cara yang sudah tidak selalu koheren: tasbih, fotonya dengan Ibu, dan sebuah buku kecil doa harian yang sudah kusam halamannya.

Dan sesuatu lagi yang Gilang lihat menyembul dari sela tas itu.

Sudut amplop.

* * *

Amplop itu sama. Gilang kenal sudutnya—cara kertasnya sedikit melengkung di ujung kiri bawah, cara warnanya yang krem sudah sedikit menguning di tepi. Amplop yang sama yang ia temukan di kamar Ibu lebih dari setahun lalu dan ia taruh di meja kecil di kamar Bapak. Amplop yang bertuliskan tangan Ibu: "Untuk Pak Sastro, bila sudah waktunya."

Bapak membawanya ke RS.

Gilang memandang amplop itu dari tempatnya duduk. Bapak tidur di depannya dengan napas yang teratur. Mesin mencatat detak jantung yang stabil. Di luar jendela kamar RS, malam sudah larut—tidak ada suara dari koridor, hanya sesekali langkah perawat yang lewat.

Ia berdiri. Mendekati tas. Mengambil amplop itu dengan hati-hati.

Di bagian belakang, ada garis tipis bekas dibuka—amplop itu sudah dibuka. Bapak sudah membacanya.

Gilang menimang amplop itu di tangannya. Ia tahu ia seharusnya tidak membacanya. Ini antara Ibu dan Bapak—privasi yang tidak seharusnya ia masuki. Ia sudah belajar pelajaran itu dari buku harian Mas Danu.

Lihat selengkapnya