Sore itu, saat semua orang sedang istirahat setelah makan siang dan rumah joglo sedang dalam jeda yang jarang terjadi—sepi tapi bukan sunyi, hanya bernapas—Mbak Fitri duduk di teras depan.
Gilang lewat dengan niat untuk masuk ke kamarnya. Tapi Mbak Fitri memanggil tanpa menoleh.
"Duduk sebentar, Gil."
Bukan pertanyaan. Gilang duduk.
Mbak Fitri sedang menulis, seperti biasanya. Tapi kali ini ia menutup bukunya begitu Gilang duduk—menutupnya dengan cara yang mengatakan bahwa percakapan ini lebih penting dari apa yang sedang ia tulis.
Mereka duduk berdampingan memandang jalan desa yang sepi di sore hari. Satu-dua orang lewat. Seekor ayam menyeberang jalan dengan cara ayam menyeberang jalan—tanpa perencanaan, tanpa urgensi.
"Kamu ke mana tadi pagi?" tanya Mbak Fitri.
"Ada urusan."
"Urusan apa?"
Gilang memandang Mbak Fitri. Mbak Fitri memandang ke depan, tidak ke Gilang—tapi ada sesuatu dalam cara ia duduk yang mengatakan ia sudah tahu jawabannya sebelum bertanya.
"Mbak Fitri sudah tahu, kan?"
Hening sebentar.
"Aku lihat kamu membawa berkas keluar dari kamar Bapak tadi malam," kata Mbak Fitri. "Dan aku tahu kamu ke mana arah dari berkas seperti itu."
Gilang menghela napas pelan. "Mbak Fitri mengamati terlalu banyak hal."