Ada hal-hal yang lebih mudah diputuskan dari yang kamu bayangkan, dan ada hal-hal yang lebih sulit dari yang terlihat. Menandatangani dokumen pinjaman ternyata masuk kategori yang pertama.
Gilang menemukan seorang rekan guru yang kebetulan bekerja paruh waktu di koperasi simpan pinjam guru—lembaga yang sudah lama ada tapi yang tidak pernah benar-benar Gilang perhatikan sebelumnya, karena ia tidak pernah butuh. Prosesnya tidak rumit: SK guru tetap sebagai jaminan, rekam jejak gaji yang bersih, dan alasan yang Gilang tulis di formulir dengan jujur: kebutuhan keluarga mendesak.
Tiga hari proses. Satu tanda tangan. Dan angka yang cukup untuk melunasi hutang tanah Bapak dengan sedikit sisa.
Gilang menandatangani dokumen itu di meja rekannya, dengan pulpen biasa di bawah cahaya lampu kantor yang biasa, pada hari biasa.
Tidak ada yang dramatis tentang momen itu. Tidak ada musik yang tiba-tiba mengalun, tidak ada cahaya yang berubah. Hanya tangan yang bergerak membentuk nama, dan setelah itu urusan sudah berbeda dari sebelumnya.
Rekannya—Pak Haryo, laki-laki lima puluhan yang sudah mengenal Gilang selama tiga tahun mengajar di sekolah yang sama—memandangnya dengan ekspresi yang tidak bertanya tapi menanyakan.
"Aman kan, Gil? Tidak ada yang dipaksakan?"
"Tidak ada yang dipaksakan."
"Cicilan bulanannya—"