Rumah Tujuh Cahaya

muhaibra
Chapter #36

Ayah Pergi

Tiga minggu setelah stroke.

Bapak meninggal pada hari Jumat, sore menjelang Ashar.

Berbeda dari Ibu yang perginya di malam gelap dengan semua orang menunggu dalam keheningan yang tegang, Bapak pergi pada sore hari yang biasa—matahari masih ada, cahaya masuk dari jendela kecil kamar RS dalam balok-balok emas yang bergerak pelan di lantai. Di luar terdengar suara kehidupan normal: langkah di koridor, suara mesin yang jauh, seseorang yang berbicara di telepon.

Dan kemudian adzan Ashar.

Bapak selalu sholat Ashar tepat waktu. Selama Gilang ingat, tidak pernah ada Ashar yang terlewat. Bahkan di hari-hari paling lelah setelah pulang dari ladang, Bapak selalu ada di sajadahnya sebelum muadzin selesai mengumandangkan.

Mungkin ada sesuatu yang puitis tentang itu—bahwa Bapak pergi tepat saat suara yang selama puluhan tahun selalu memanggilnya untuk berdiri dan menghadap Allah berkumandang.

Atau mungkin itu hanya kebetulan.

Gilang tidak akan pernah tahu. Dan mungkin tidak perlu tahu.

* * *

Yang ia tahu adalah ini: ia sedang di kamar RS bersama Mas Danu ketika mesin itu berbunyi—bukan alarm keras, tapi perubahan ritme yang sudah cukup ia kenal untuk tahu artinya. Dan ia menggenggam tangan Bapak saat garis hijau di mesin itu menjadi datar.

Lihat selengkapnya