Ada hal yang tidak pernah diajarkan kepada seseorang tentang pemakaman: bahwa yang paling lama bertahan dari semua ritualnya bukan doa atau tangisan atau kata-kata orang yang datang melayat, tapi momen ketika tanah pertama dilemparkan ke dalam lubang.
Suaranya.
Suara tanah yang menghantam kayu peti mati—berat, nyata, final—adalah suara yang tidak ada analoginya di pengalaman manusia lainnya. Suara yang mengatakan bahwa ini nyata, ini sungguh terjadi, tidak ada lagi yang bisa diundur.
Gilang berdiri di tepi makam Bapak—di sebelah makam Ibu yang tanahnya sudah lebih padat dari setahun lalu, sudah ada batu nisan sederhana yang Mas Danu pesan dari tukang batu desa—dan mendengar suara itu. Dan di dalam dirinya, ia mendengar juga suara lain: suara semua hal yang tidak sempat dikatakan kepada Bapak. Semua pertanyaan yang tidak sempat diajukan. Semua terima kasih yang tidak sempat diucapkan.
Tapi kemudian ia ingat surat Ibu. Cara Bapak membawa amplop itu ke RS. Cara Bapak bertanya kepadanya: "Kamu sudah baca surat itu?"
Bapak tahu. Bapak menunggu dengan cara yang ia bisa.
Dan itu, Gilang memutuskan, cukup.
* * *