Rumah Tujuh Cahaya

muhaibra
Chapter #38

Malam Sebelum Berpencar

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua tahun, mereka makan bersama tanpa agenda.

Tidak ada rapat. Tidak ada keputusan yang harus diambil. Tidak ada kabar buruk yang menunggu di balik pintu. Hanya tujuh orang di ruang makan rumah joglo, dengan makanan yang sudah disiapkan Mbak Ratih sejak sore—nasi putih panas, ayam goreng yang kriuknya bisa terdengar dari ruang tengah, sayur lodeh yang bumbunya sama persis dengan cara Ibu membuatnya karena Mbak Ratih sudah hafal tanpa pernah menuliskannya, sambal yang menurut semua orang terlalu pedas tapi habis juga.

Mas Bagas yang membawa es teh dari warung ujung gang—jalan kaki sendiri, tanpa diminta, pulang dengan kantong plastik yang ada bercak tetes air di luarnya. "Es tehnya tumpah sedikit," katanya. "Bapak warungnya ngomong minta maaf." Entah kenapa kalimat biasa itu membuat Mbak Ratih tertawa lebih keras dari yang diperlukan.

Dan dari sana sesuatu terbuka.

* * *

Mas Hafidz bercerita tentang dirinya waktu SD—sebuah cerita yang tidak ada yang pernah dengar karena Mas Hafidz tidak terbiasa bercerita tentang dirinya sendiri. Tentang bagaimana ia dulu pernah bolos mengaji demi ikut teman-temannya mancing di sungai, dan Bapak yang tahu tapi tidak bilang apa-apa, hanya memastikan di hari berikutnya Mas Hafidz berangkat lebih awal.

"Bapak tidak pernah marah soal itu?" tanya Mbak Wulan.

"Tidak. Itu yang membuatku lebih takut dari kalau dimarahi."

Semua orang tertawa.

Mbak Ratih bercerita tentang pelanggan pasarnya yang paling aneh—ibu-ibu yang setiap Selasa datang menawar harga ikan dengan teknik yang sama persis selama dua belas tahun, tidak pernah berhasil mendapat harga yang ia mau tapi tetap datang setiap minggu. "Mungkin dia menikmati prosesnya," kata Mbak Fitri. "Mungkin menawar itu hiburannya." Mbak Ratih memikirkan ini sebentar. "Mungkin. Dia kelihatannya senang."

Mas Danu bercerita—ini yang membuat semua orang berhenti makan sejenak karena Mas Danu jarang bercerita—tentang Bapak dua bulan lalu, sebelum stroke, saat pikun ringannya membuat Bapak tiba-tiba bangun pukul dua pagi dan pergi ke dapur, mencari sesuatu dengan cara yang sangat serius. Mas Danu yang mendengar dan ikut ke dapur, menemukan Bapak sedang membuka-buka laci.

"Lagi cari apa, Pak?" tanya Mas Danu dalam ceritanya.

"Kunci traktor."

"Kita tidak punya traktor, Pak."

Bapak berhenti membuka laci. Memandang Mas Danu. Lalu berkata dengan sangat serius: "Kamu ini tidak tahu saja." Dan kembali ke kamarnya.

Ruang makan itu meledak dalam tawa—tawa yang asli, tawa yang keluar dari tempat yang sudah lama tidak bisa tertawa dengan bebas. Mbak Wulan sampai memegang perutnya. Mas Bagas tertawa dengan suara yang Gilang tidak ingat pernah mendengarnya dari abangnya itu—tawa yang penuh dan tidak dikontrol.

Lihat selengkapnya