Pemberitahuan itu datang lewat pesan singkat pada suatu pagi dua bulan setelah pemakaman Bapak.
Gilang sedang memeriksa pekerjaan rumah murid-muridnya ketika HP bergetar di meja guru. Ia lirik sebentar—nama Mas Danu di layar, yang masih selalu membuat Gilang sedikit lebih waspada dari biasanya sebelum ia ingat bahwa tidak semua pesan dari Mas Danu berarti ada darurat.
Ia buka.
"Gil, aku daftar kursus pertanian di Yogya. Mulai bulan depan. Tiga bulan. Mbak Wulan yang jaga rumah selama itu. Aku boleh pergi?"
Gilang membaca pesan itu dua kali.
Kursus pertanian di Yogyakarta. Tiga bulan. Dan—yang paling membuat dada Gilang terasa penuh sampai tidak bisa langsung membalas—pertanyaan di akhirnya: aku boleh pergi?
Mas Danu, empat puluh dua tahun, bertanya apakah ia boleh pergi.
Gilang meletakkan HP di atas meja. Memandang ke depan—ke papan tulis yang masih ada coretan pelajaran tadi, ke bangku-bangku kosong murid yang sedang istirahat di luar. Ia menarik napas. Kemudian mengambil HP lagi dan mengetik:
"Mas Danu tidak perlu minta izin untuk pergi. Tapi kalau Mas bertanya—iya, pergi. Sudah lama harusnya."
Tiga centang biru. Lama tidak ada balasan. Kemudian:
"Oke. Makasih."
Dua kata dari Mas Danu yang Gilang baca berkali-kali dan setiap kali terasa seperti lebih dari dua kata.
* * *
Mereka bertemu di terminal bus kota kecamatan tiga minggu kemudian. Gilang mengajukan cuti satu hari—alasan yang ia tulis di formulir dengan jujur: "keperluan keluarga"—dan mengendarai motor satu jam dari Semarang untuk bisa mengantarkan.