Rumah Tujuh Cahaya

muhaibra
Chapter #42

Mas Hafidz dan Cermin

Pesantren kecil Mas Hafidz sudah punya dua belas santri sekarang—dua lebih dari bulan lalu, empat lebih dari saat peresmian.

Gilang mengunjunginya pada suatu Minggu pagi—perjalanan satu jam dari Sokowati, melewati jalanan yang mulai naik ke arah lereng, dengan pemandangan yang berganti dari sawah ke kebun teh ke hutan pinus tipis. Pesantren itu ada di desa kecil yang bahkan lebih kecil dari Sokowati, di tanah yang Mas Hafidz beli bertahun-tahun dengan tabungan ceramahnya.

Bangunannya sederhana—aula utama dari batako berplester kasar, kamar-kamar santri di samping, mushola kecil di belakang. Tidak ada yang mewah. Tapi ada sesuatu tentang tempat itu yang terasa serius dalam cara yang baik—serius tentang tujuannya, tentang apa yang sedang dibangun di sana.

Mas Hafidz sedang mengajar saat Gilang tiba. Gilang mengintip dari luar aula—dua belas anak dengan berbagai usia, dari mungkin sepuluh tahun sampai remaja, duduk melingkar dengan Mas Hafidz di tengah. Tapi bukan Mas Hafidz yang bicara. Ia menunjuk satu anak, dan anak itu yang berbicara—menceritakan sesuatu, entah apa, dengan cara yang antusias. Mas Hafidz mendengarkan. Mengangguk. Bertanya satu pertanyaan yang membuat anak itu berpikir sebentar sebelum menjawab.

Gilang berdiri di luar cukup lama sebelum masuk.

Ini bukan Mas Hafidz yang selalu ia kenal—yang selalu yang paling banyak bicara di setiap ruangan yang ia masuki. Ini versi yang berbeda. Yang lebih banyak bertanya daripada menjawab. Yang memberi ruang.

* * *

Setelah pelajaran selesai dan santri-santri pergi ke kegiatan masing-masing, Mas Hafidz dan Gilang duduk di teras mushola kecil. Kopi panas—yang dibuatkan oleh santri tertua dengan cara yang terlihat sudah sangat terbiasa.

"Sudah berapa lama mengajar dengan cara seperti itu?" tanya Gilang.

Lihat selengkapnya