Warung itu buka pada bulan keempat setelah pemakaman Bapak.
Bukan warung besar. Bukan di tempat yang strategis. Hanya tiga meja plastik di teras rumah Mbak Ratih—rumah kecil yang ia sewa bertahun-tahun di gang dekat pasar, yang halamannya cukup untuk tiga meja kalau ditata dengan benar. Menu tulis tangan di papan kecil yang digantung di tiang teras: nasi lodeh, ayam goreng, tempe orek, sayur asem, dan—di bagian bawah dengan tanda bintang—opor ibu.
Opor ibu.
Bukan "opor ayam" atau "opor spesial". Opor ibu. Dua kata yang Gilang yakin tidak ada di menu warung mana pun di seluruh kecamatan, tapi yang langsung membuat siapapun yang memesannya tahu bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar makanan yang akan datang ke meja mereka.
Gilang datang di hari pembukaan. Bukan acara besar—tidak ada spanduk, tidak ada undangan resmi. Mbak Ratih hanya bilang lewat pesan: "Warungku buka Sabtu pagi. Kalau mau datang, datang."
Semua saudara yang bisa datang, datang.