Paket itu datang pada suatu Kamis sore, dikirim ke alamat apartemen Gilang di Semarang.
Kotak kardus kecil. Nama pengirim: Fitri Sastro. Gilang membukanya di meja makan—melepas lakban dengan hati-hati, membuka lipatan kardus, dan di dalam, terbungkus kertas coklat yang diikat dengan tali rami, ada buku.
Bukan buku harian—buku sungguhan, dengan ISBN di belakang, dengan nama penerbit di bawah judul. Sampulnya biru tua dengan ilustrasi sederhana: tujuh siluet berdiri di bawah pohon yang besar.
Judulnya: "Rumah yang Kami Jaga."
Di bawah judul, nama penulis: F. Sastro.
Dan di halaman dedikasi, yang Gilang buka dengan tangan yang sedikit gemetar:
Untuk keluarga Sastro — yang tidak sempurna tapi nyata. Dan untuk siapapun yang pernah pulang ke rumah dan menemukan bahwa pulang itu lebih rumit dari yang dibayangkan.
Gilang duduk di meja makannya dan membaca buku itu dari awal.
Buku kumpulan esai—dua belas esai pendek yang masing-masing berdiri sendiri tapi bersama membentuk sesuatu yang utuh. Tentang keluarga, tentang kehilangan, tentang cara orang-orang mencintai satu sama lain dengan cara yang kadang tidak dimengerti bahkan oleh mereka sendiri. Nama-nama sudah diubah, detail-detail sudah disesuaikan. Tapi Gilang kenal setiap ceritanya.
Ada esai tentang seorang perempuan yang berdagang di pasar setiap pagi sebelum matahari terbit—tanpa menyebut Mbak Ratih, tapi setiap kata terasa seperti Mbak Ratih.
Ada esai tentang seorang laki-laki yang memilih tinggal ketika semua orang pergi—tanpa menyebut Mas Danu, tapi seseorang yang membacanya dan mengenal Mas Danu akan mengenalinya di setiap kalimat.
Ada esai tentang seorang anak bungsu yang belajar bahwa mengamati saja tidak cukup—seseorang harus terlibat, harus memilih, harus bersedia untuk bukan hanya penonton.