Rumah Tujuh Cahaya

muhaibra
Chapter #45

Hutang yang Lunas

Sertifikat tanah itu datang dua minggu setelah Gilang menyelesaikan pembayaran di notaris.

Selembar kertas resmi dengan cap basah dan nomor seri yang panjang—dokumen yang mengatakan bahwa tanah di belakang rumah joglo Sokowati, seluas yang tercantum dalam paragraf pertama, bebas dari segala tanggungan dan tercatat bersih atas nama keluarga Sastro.

Gilang membawa sertifikat itu ke Sokowati pada akhir pekan. Mbak Wulan yang ada di rumah—Mas Danu masih di Yogya dua minggu lagi. Gilang masuk, meletakkan tas di kamar yang sudah bertahun-tahun menjadi kamarnya kalau pulang, lalu mengambil sertifikat itu dan pergi ke kamar Bapak.

Ia menyimpannya di dalam laci meja kecil di samping tempat tidur Bapak—laci yang dulu ada botol obat darah tinggi dan kacamata baca Ibu dan tasbih yang sudah aus. Sekarang tasbih itu sudah dikebumikan bersama Bapak. Kacamata Ibu ada di kotak kenangan. Yang tersisa di laci itu hanya beberapa hal kecil—foto Bapak muda, catatan alamat yang tulisannya sudah pudar.

Gilang meletakkan sertifikat itu di sana. Di antara hal-hal kecil itu.

Lalu ia menutup laci.

* * *

Lihat selengkapnya