Rumah Tujuh Cahaya

muhaibra
Chapter #46

Satu Lebaran

Lebaran pertama tanpa Bapak dan Ibu.

Mereka semua datang.

Ini yang tidak pernah sepenuhnya Gilang antisipasi—bahwa tanpa ada kewajiban yang ditetapkan siapapun, tanpa ada yang mengkoordinasi secara resmi, tujuh bersaudara semuanya memilih untuk ada di Sokowati pada hari yang sama.

Mas Bagas yang sudah mutasi ke kota kabupaten tetangga—pengajuannya dikabulkan tiga bulan lalu—tiba malam sebelum Lebaran dengan motor pribadinya dan kotak kue dalam jumlah yang berlebihan. Ia bilang rekan-rekan di pos juga titip salam.

Mas Danu pulang dari Yogyakarta dua hari sebelumnya—kursusnya sudah selesai, ia kembali ke Sokowati dengan wajah yang sama tapi ada sesuatu yang berbeda. Lebih ringan, mungkin. Lebih lapang di sekitar matanya. Ia langsung membersihkan rumah tanpa diminta—menyapu, mengepel, memastikan semua kamar siap untuk ditempati.

Mbak Ratih menutup warungnya tiga hari untuk Lebaran—pertama kalinya ia libur lebih dari satu hari sejak warung itu buka. Ia datang dengan dua panci besar dan ekspresi yang mengatakan bahwa ia sudah tahu apa yang akan ia masak dan tidak butuh saran dari siapapun.

Mbak Wulan yang sudah tinggal di rumah joglo itu mempersiapkan kamar-kamar sejak seminggu sebelumnya—mengganti sprei, menyiapkan handuk bersih, meletakkan sedikit bunga dari kebun di setiap meja kamar. Hal-hal kecil yang mengatakan bahwa ada yang menunggu dan menyambut.

Mbak Fitri tiba dengan kopor kecil dan buku yang baru selesai ia tulis tapi belum dikirim ke penerbit—ia bilang ingin membacakan satu paragraf kepada saudara-saudaranya sebelum mengirimkan. Tidak ada yang keberatan.

Lihat selengkapnya