Rumah Tujuh Cahaya

muhaibra
Chapter #47

Gilang Menulis Surat


Malam setelah Lebaran, saat semua orang sudah tidur dan rumah joglo itu bernapas dengan ritme tidur yang panjang dan dalam, Gilang duduk di meja kecil di kamarnya.

Ia mengambil selembar kertas dari buku tulisnya. Mengambil pena. Dan mulai menulis.

Kepada siapa surat ini ditujukan, ia tidak terlalu yakin. Kepada Ibu, mungkin. Kepada Bapak. Kepada dirinya sendiri yang setahun yang lalu menerima telepon dari Mas Danu dan tidak tahu bahwa telepon itu akan mengubah begitu banyak hal.

Ia menulis:

* * *

Ibu, Bapak —

Aku tidak tahu apakah surat ini sampai ke mana-mana. Tapi aku tulis karena Mbak Fitri bilang bahwa menulis adalah cara untuk memastikan sesuatu tidak hilang begitu saja. Dan aku tidak mau ini hilang.

Lihat selengkapnya