Rumah Tujuh Cahaya

muhaibra
Chapter #49

Rumah yang Kosong Tapi Tidak Sepi


Gilang datang ke Sokowati pada suatu Sabtu di bulan keenam setelah Lebaran.

Bukan karena ada yang mengundang. Bukan karena ada acara. Mbak Wulan sudah pindah ke kontrakan baru di kota kabupaten—usaha jahitnya mulai jalan, perlu tempat yang lebih dekat dengan pasar kain. Mas Danu sudah kembali dari Yogyakarta tapi sedang ikut pelatihan lanjutan di kota lain minggu ini. Semua saudara yang lain ada di kehidupan masing-masing.

Rumah joglo Sokowati sedang benar-benar kosong.

Gilang membuka kunci dengan kunci cadangan yang sudah ia pegang sejak—ia tidak ingat sejak kapan. Mungkin sudah bertahun-tahun ada di gantungan kuncinya, melewati berbagai keperluan, dan baru sekarang ia benar-benar memakainya untuk masuk ke rumah yang tidak ada penghuninya.

Pintu terbuka. Ia masuk.

Bau rumah yang kosong berbeda dari bau rumah yang ada orang di dalamnya. Ada kelembaban tertentu, ada ketiadaan aroma masakan atau sabun cuci piring atau parfum penghuni. Hanya bau kayu tua dan udara yang bergerak pelan.

Tapi tidak terasa asing.

Gilang berjalan ke dalam tanpa menyalakan lampu—cahaya siang masuk cukup dari jendela-jendela yang korden tipisnya dibiarkan terbuka. Ia berjalan ke ruang tengah. Duduk di kursinya—kursi yang selalu kursinya, di baris paling belakang dekat rak buku, dari mana ia bisa melihat seluruh ruangan.

Lihat selengkapnya