Dari buku catatan F. Sastro, halaman terakhir —
Aku menulis tentang keluargaku bukan karena mereka sempurna. Justru sebaliknya.
Aku menulis tentang mereka karena mereka tidak sempurna dengan cara yang sangat manusiawi—dengan cara yang aku yakin banyak orang lain akan mengenali di keluarga mereka sendiri. Satu saudara yang terlalu keras memimpin. Satu yang terlalu banyak menanggung. Satu yang tersesat dalam pernikahan yang salah. Satu yang melarikan diri terlalu jauh terlalu lama. Satu yang berbicara dengan mencatat. Satu yang mencintai dari jarak dan merasa bersalah untuk itu. Dan satu yang terlalu lama menjadi penonton sebelum akhirnya memilih untuk terlibat.
Kami bukan keluarga yang sering memeluk satu sama lain. Bukan keluarga yang mudah mengucapkan 'aku cinta kamu' secara langsung. Kami keluarga yang menunjukkan cinta dengan cara-cara yang tidak selalu terlihat seperti cinta: dengan tinggal, dengan memasak, dengan memperbaiki pagar, dengan hadir di terminal bus, dengan melunasi hutang diam-diam, dengan menulis supaya ada yang ingat.
Ibu kami pergi dengan pesan yang singkat: jaga rumah kita. Kami masing-masing menafsirkan pesan itu dengan cara kami sendiri, dan selama beberapa waktu kami bertengkar tentang siapa yang paling benar. Lalu perlahan-lahan kami menyadari bahwa mungkin semua tafsiran kami benar—bahwa rumah itu cukup besar untuk semua maknanya sekaligus.